Kamis, 19 November 2015

Random 10: Nyolong Ide dari Curhat DE

'Data!data!data! he cried impatiently. I can't make bricks without clay.'-Sherlock Holmes

Seperti yang sudah kusebutin di pendahuluan yang lalu, maka hal random yang pertama kutulis adalah Random 10: Nyolong Ide dari Curhat DE. Dan ini dia curhatnya yang masih agak anget:

Diambil dari blognya mbak Ely

Okelah, rerata yang komen di situ pada menggunakan sudut pandang istri. Padahal kasus curhatnya masih kurang data. Data yang kugaris bawah itu masih kurang cukup juga sepertinya. Musti ada sudut pandang suami yang seharusnya menjelaskan mengapa dia berbuat seperti itu. Tapi berhubung suami nggak ikut bercurhat ria, aku mengambil peran (pura-puranya sebagai suami) sebagai bentuk –bukan pembelaan- penyeimbang.

Warning: karena kurangnya data, tulisan berikut ini juga bisa disebut sebagai menduga-duga –berhipotesis ria-

*****

Bismillah...

dicurhatannya, mbak Nhia menulis:

... semenjak saya hamil suami saya sering selingkuh dengan perempuan bayaran.
“Padahal kan, aku jajan di luaran juga karena ada alasannya, my dear!” Mungkin suami mbak Nhia akan berteriak seperti itu sebagai bentuk pembelaan diri.
Jadi alasannya apa, Pak?
“Karena aku mati rasa...”
Kenapa bisa mati rasa?
“Semenjak hamil anak pertama, istriku sudah tak seperti dulu lagi.”
Sudah tidak seperti dulu lagi? Maksudnya????? Adult part nih keknya *sekarang mending saya balik nanya ke mbak Nhia dulu deh*
Bagaimana sosok mbak Nhia sebelum melahirkan?
Bagaimana sikap mbak Nhia dalam menghadapi hubungan intim dengan suami?
Apa yang menjadi prioritas mbak Nhia saat belum hamil? Suamikah?

Bagaimana sosok mbak Nhia setelah melahirkan? Apa yang berubah?
Setelah melahirkan, bagaimana sikap mbak Nhia dalam menghadapi hubungan intim dengan suami?
Apa yang menjadi prioritas mbak Nhia saat ini? Anak kah?

Adakah perubahan yang signifikan antara ke dua rentang waktu tersebut (saat sebelum hamil dan saat setelah melahirkan)? Misal, sebelum punya momongan, mbak Nhia selalu menggairahkan, fokus pada suami, dan hal lain yang setipe-tipe itulah~ lalu sekarang malah jadi tipikal ibu-ibu membosankan?
Itu beberapa contoh bentuk dari intospeksinya...

Sekarang, aku ingin bilang dari lubuk hatiku yang terdalam: sayangi dirimu mbak! Mbak Nhia pasti masih mencintai suami, kan? Masih ingin berharap agar pernikahan ini diperbaiki, kan? Menurut mbak Nhia, apakah mbak Nhia bisa berubah menjadi pribadi yang (sekali lagi) diinginkan oleh suami? Hanya mbak nhia yang tahu jawabannya.

Kalo jawabannya adalah iya, coba lakukan ini dulu deh: buang segala beban pikiran. Hilangkan stress. Coba ambil jeda. Misal dengan seminggu bertamasya menghilang entah ke mana. Yang penting pikiran fresh. Kalo pikiran sudah fresh, semoga mbak Nhia bisa mengambil sudut pandang yang lebih baik. :)

Setelah refreshing, setelah berpikir dan merenung, apakah mbak Nhia masih ingin memperbaiki hubungan dengan suami? Jika tidak, ya sudah. End of story. Jika iya, cobalah menjadi sosok yang baru dilahirkan kembali. Sosok baru, yang tentunya harus lebih baik dari sosok saat sebelum refreshing. Misal: menjadi sosok yang sedikit badgirl gitu lah~ Maksudku, suami mbak Nhia kan ‘jajan di luaran’ tha?! Adakah mbak Nhia tahu, tipe-tipe wanita yang bagaimanakah, yang ‘dibeli’ oleh suami? Pelajari sosok wanita ‘nakal’ ini secara seksama. Menurut mbak Nhia, apa yang ada di wanita itu –yang membuat suami mbak Nhia tertarik kepadanya- yang tidak ada pada diri mbak Nhia?

*Sekarang saya balik nanya lagi ke suami*
Mengapa Bapak dulu berjanji akan berubah?
“Tentu saja karena aku sayang istri dan anakku...”
Tapi kenapa Bapak malah berulangkali menyalahi janji?
“Kau tahu... Pernahkah kau berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sudah ada niat untuk itu (melakukan atau tidak melakukan sesuatu), tapi keadaan sekitarmu belum mendukungmu untuk melakukannya? Sehingga kau malah terpaksa berulangkali melanggar janji yang telah kau buat?”
Tentu saja pernah.
“Nah, itulah. Kau pasti juga paham bahwa orang per orang itu berbeda tingkat libidonya...”
Tentu saja saya tahu, tapi belum terlalu paham. Saya kan masih single, Pak... hahaha...
“Menurutmu, apa yang akan dilakukan seseorang ketika dia sudah sangat berhasrat, tapi pasangannya malah dingin?”
Cari pelampiasan lain, mungkin?!
That’s it. Itulah kenapa saya suka ‘jajan’ di luar... ”
Oooo... Jadi analoginya adalah seperti nyidam akan makanan tertentu ya, Pak? Ketika pengin makan sate misalnya, kalo di rumah ada sate bikinan sendiri, ngapain harus jajan? Kalo di rumah tidak ada sate, dan sangat pengin makan sate, maka barulah saya beli sate di luaran. Begitu kan pak?
“Yaa...  cukup mirip lah.”
*****

Kesimpulannya:
Coba mbak Nhia berkomunikasi secara baik-baik dengan suami. Agendakan sebuah ‘quality time’. Diskusikan dengan kepala dingin. Saat itu, coba mbak Nhia tanyakan ke suami, apa yang dimaksud dengan mati rasa? Adakah hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa yang pernah ada? Apakah suami masih sayang pada mbak Nhia beserta buah hati, dan ingin memulai lembaran baru? Jika iya, diskusikan tentang apa saja yang menjadi penyebab keretakan hubungan, dan bagaimana cara memperbaikinya. Oia, waktu hendak berdiskusi, pastikan mbakNhia dan suami dalam keadaan kenyang yaaa~

Tapi jika suami sudah tidak bisa (benar-benar tidak bisa) diajak berdiskusi dengan kepala dingin, yaaaa... entahlah. Hanya mbak Nhia yang tahu seberapa besar rasa sayang mbak Nhia terhadap suami.


*****

PS: goldar mbak Nhia jangan-jangan A ya? Goldar suaminya jangan-jangan B ya?
Kalo begitu pertahankan pernikahan kalian. Agar semakin banyak para AB lahir di dunia ini. *motivasi terselubung. Lalu dikeplak* Oke, itu tadi cuma menduga-duga. Kalo berkenan sih, silakan dijawab. Kalo merasa sebel dengan postingan ini, silakan tampar saya melalui komentarmu mbak. Tapi jangan keras-keras yaaa... :,D

Semoga masalahnya bisa segera diberikan jalan keluar.


Ketemu di tulisan random berikutnya yaa... Have a nice day and bye~


7 komentar:

  1. posting-posting sendiri...
    komen-komen sendiri...
    baca-baca sendiri...
    Pertamax sendiriiii~

    #sableng mode: on

    BalasHapus
  2. sebel kalo ada orang bilang udah mati rasa sama istrinya terus selingkuh. ngomong kek sama istrinya, biar bisa usaha biar suami jatuh cinta lagi. ato, kalo udah bener2 mati rasa mah ya pisah aja, biar istrinya juga dapet kesempatan nyari suami lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus dikomunikasikan biar bisa dibenahi bareng-bareng gitu kan mbak, maksudnya?
      siiiippp...

      Hapus
  3. errr... Enha bikin parni, eh, parno ih :(

    BalasHapus
  4. Enha.. aku goldar A. kalau dapet jodohnya goldar B trus kejadian kayak di cerita itu, gimana dong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Anon, thanks komennya...

      btw, kenapa musti merisaukan hal-hal yang belum tentu terjadi? :D
      bertahun-tahun dari sekarang, kamu akan menyesali apa yang tidak kamu lakukan daripada apa yang kamu lakukan. *nyambung ga ya*

      maksudku, kenapa musti takut akan masa depan? Jangan su'udzon dulu ih... :D

      kalo baru kejadian kek cerita di atas, kamu boleh curhat lagi di mari yaaa... :D
      tapi jangan sampe dapet kejadian kek di atas. Aamiin.
      have a nice day, Non... :D

      Hapus

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^