Halaman

Selasa, 22 November 2016

Random 2: Tahi Lalat dan Takdir (Part 2)

Bismillah...

Pada tulisan random 2: Tahi Lalat dan Takdir (part 1) yang lalu, disebutkan bahwa takdir sudah ditetapkan oleh Tuhan. Pertanyaannya: Jadi, apakah kita harus menunggu datangnya takdir begitu saja?

Menunggu takdir dengan dalih karena takdir sudah ditetapkan?! Oh, c’mon. Bukan itu yang diharapkan dari tulisan ini. Sebagai manusia yang optimis, kita harus bergerak dinamis. Menulis takdir, mengubah takdir, menjemput takdir, apapun istilah yang digunakan, yang penting tujuannya sama: tidak hanya duduk berpangku tangan sambil malas-malasan.

Agar bisa sepemahaman, aku sebutkan lagi beberapa term yang sebenarnya sudah ditulis di part 1:
  1. Tuhan itu ada
  2. Tuhan itu Maha Mengetahui
  3. Tuhan itu Maha Berkehendak
  4. Tuhan itu Maha Adil
  5. Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
  6. Tuhan tidak mendzalimi makhluk-Nya
  7. Tuhan itu Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf
  8. Tuhan itu Maha mengabulkan do’a


mole and destiny
Tulisan di papan tulis: 1 minute speech-Mole

Batasan Bahasan Keseluruhan:
"Tahi lalat dan takdir tidak berbeda.  Jika kau menunggu untuk bertemu orang yang memiliki tahi lalat di tempat yang sama... Itu hampir tidak mungkin. Karena itu... Kita harus menulis sendiri takdir kita."
****

Menulis takdir? Mengubah Takdir? Tapi, bukankah di tulisan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa takdir sudah di tetapkan? Dan sekarang kita malah diajak untuk mengubah takdir?! Jadi, sebenarnya takdir itu bisa diubah tidak sih? | Ada yang bisa...

Jika dalam Lauhul Mahfuzh telah dituliskan mengenai segala hal yang terjadi, lalu bukankah ini berarti semua usaha kita tidak berguna? Sudah ditetapkan seperti itu, kenapa musti berusaha? 

Errr... takdir itu... Bukan begitu cara kerjanya. Yang tertulis di Lauhul Mahfuzh adalah pengetahuan Allah mencakup segala hal, mulai dari masa lalu-masa kini-hingga masa depan. Penekanannya ada pada kata ‘pengetahuan’. Dan seperti yang kita tahu: pengetahuan itu sifatnya menyingkap, bukannya mengikat.

Lantas, jika takdir telah ditetapkan, rezeki, amal, maupun ajal telah ditetapkan; tidak bisa bertambah dan berkurang, maka bagaimana kita menafsirkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasalam:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih).
Bagaimana hayooo? Jika rezeki, amal, dan ajal katanya sudah ditetapkan; tapi kenapa orang yang terkenal sangat jujur dan perkataannya terjaga, bisa berkata demikian?

Jawabannya adalah bahwa karena rezeki dan umur terbagi menjadi dua macam:
Pertama, yang sudah dicatat dalam Ummul Kitab (Takdir azali). 
Kedua, yang Allah beritahukan kepada para malaikat-Nya (yang dicatat sebagai takdir ‘umri). Inilah yang bisa bertambah dan berkurang. (Ash-Shallabi, 2014: 496).
Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

QS Ar Ra'd ayat 39


“Ummul Kitab adalah Lauhul Mahfuzh tempat Allah menakdirkan segala hal. Dalam kitab catatan malaikat, umur bisa bertambah dan berkurang, demikian juga rezeki, tergantung sebab-sebabnya. Para malaikat mencatatkan untuknya rezeki dan ajalnya. Jika seseorang menyambung silaturrahim, rezeki dan ajalnya ditambah. Kalau tidak, maka keduanya akan dikurangi darinya.” (Ibnu Taimiyah dalam Ash-Shallabi (2014: 496).
Singkatnya: takdir azali di dalam ummul kitab (tentang segala hal) tidak akan berubah, karena sudah fixed ditulis. Tapi, takdir ‘umri masih bisa diubah (well, dan segala perubahannya pun sebenarnya sudah tercatat di dalam Ummul Kitab). CMIIW. 


Melawan takdir dengan takdir
“Orang yang beriman kepada qadar itu melawan takdir dengan takdir yang lain. Artinya, dia tidak menyerah kepada takdir selama masih ada yang mendorong, menghilangkan, dan mencegah. Dia lalu mengambil sebab-sebab yang dapat merealisasikan hal itu.” (Ash-Shallabi, 2014: 396)
Seorang muslim diperintahkan untuk melakukan pencegahan dari takdir buruk agar tidak terjatuh di dalamnya. Misal mengambil perlindungan agar tidak terkena penyakit, menjauhi tempat yang terkena wabah penyakit agar tidak terkena, dan menjaga diri di belakang tembok atau benteng ketika berperang untuk melindungi diri dari serangan musuh. Seorang muslim juga diperintahkan untuk menghilangkan dan melawan takdir buruk jika sudah terjadi. 

Jadi, melawan takdir dengan takdir ada dua macam: mencegah agar takdir (khususnya takdir buruk) tidak terjadi; dan juga menghilangkan atau melawan takdir (khususnya takdir buruk) yang sudah terjadi.
“Selama takdir masih belum kita ketahui dan kemungkinan ia akan terjadi, maka kita (boleh) melakukan sebab-sebab agar tidak terjadi. Jika Allah sudah menuliskan harus terjadi, maka kita tidak bisa melakukan sebab-sebab untuk mencegahnya. Atau, sebab-sebab tersebut bisa kita lakukan, namun tidak bisa menghasilkan, karena ada yang mencegahnya untuk sampai kepada akibat.” (Ash-Shallabi, 2014: 397).
Mengunci pintu dan memasang alarm untuk menghindari pencurian, mencuci tangan sebelum makan agar tidak cacingan, dan berhati-hati ketika berkendara agar tidak kecelakaan, merupakan beberapa contoh mencegah agar takdir buruk tidak terjadi. Tentunya pencegahan ini juga harus mendapat izin Allah, karena jika tidak diizinkan, meski pencegahan sudah diusahakan, tapi terkadang musibah juga masih bisa menghampiri. Inilah yang namanya takdir.

Selain mencegah terjadinya takdir, kita juga bisa melawan takdir yang telah terjadi dengan takdir lain, yang tentunya ini juga harus mendapat izin dari Allah. Misalnya adalah: meminum obat untuk menghilangkan penyakit. Takdir yang pertama: sakit. Karena seseorang pasti tidak suka dengan sakit, maka dia melawan takdir berupa sakit dengan meminum obat. Kalau dia ditakdirkan sembuh, maka dia akan sembuh. Kalau tidak, maka obatnya tidak bakal berpengaruh.

Contoh lainnya: bekerja keras untuk terlepas dari kemiskinan. Takdir pertama: miskin. Karena manusia pada umumnya pasti tidak suka dengan kemiskinan, maka dia melawan takdir berupa kemiskinan dengan bekerja keras. Kalau dia ditakdirkan menjadi kaya, maka dia akan kaya. Kalau tidak, maka bekerja siang-malam pun, dia tidak bakal bisa kaya. CMIIW.

****

Doa dan Qadar
“Sesungguhnya doa dan bala bencana pasti bertemu antara langit dan bumi sehingga keduanya bertarung.” (Shahih Al-Jami’ karya Al-Abani).
“Jika doa ditakdirkan sebagai sebab bagi sesuatu, maka seseorang harus berdoa dan melakukan sebab yang Allah telah menjadikannya sebagai sebab. Doa adalah sebab yang mendatangkan manfaat, sebagaimana ia juga sebab menolak bala bencana. Jika doanya lebih kuat dari bala bencananya, maka doa itu akan menolak bencana. Jika sebab bencana lebih kuat, maka doa tidak akan bisa menolak terjadinya bencana, namun hanya meringankan dan melemahkan efek bencana yang akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat dan lebih manjur dalam mendapatkan apa yang diinginkan daripada doa.” (Ash-Shallabi, 2014: 399) >>> pengeditan seperlunya dari gw

Jadi, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa kita harus banyak-banyak berdoa... Coba kawan sekalian melihat lagi lima macam takdir yang telah disebutkan di Random 2: Tahi Lalat dan Takdir (part I). Terdapat takdir yaumi, yang ditulis secara harian. Tuhan kita setiap hari berada dalam kesibukan untuk mengabulkan orang yang berdoa, memberi orang yang meminta, mengampuni dosa, dan sebagainya. Sepertinya, di sinilah bagian di mana kita bisa mengupayakan agar takdir baik-lah yang datang kepada kita. Tapi, seperti yang kita tahu, doa saja tentu tidak cukup. Harus dibarengi dengan usaha. Karena takdir (seperti disinggung di awal), cara kerjanya adalah dengan melibatkan sebab-akibat.


Cara kerja umum takdir: Sebab dan akibat
Tuhan itu Maha Kuasa dan kekuasaan-Nya Maha Luas, dan manusia pun mempunyai sedikit kekuasaan dalam menentukan nasibnya sepanjang mereka dapat memilih antara yang baik dan yang buruk, antara yang hak dan yang bathil (takdir yaumi). Kapan saja Tuhan dapat menetapkan takdir-Nya kepada manusia, biasanya takdir itu benar-benar sesuai dengan cara yang biasa, yaitu, hukum alam. Manusia di dalam lingkungan eksistensinya yang terbatas itu menjadi pembangun watak serta arsitek nasibnya sendiri (takdir yaumi), yang tunduk kepada kontrol dan pengawasan yang Maha Mengetahui (Tuhan). (Muzaffaruddin Nadvi. 1984: 17) >>> kata dalam kurung itu tambahan dari gw, maksudnya biar lebih jelas aja perbedaannya.
“Allah ‘azza wa jalla menciptakan sebab dan akibatnya. ‘Sebab’ tidak berdiri sendiri dari ‘akibat’, tetapi ia harus memiliki sebab-sebab lain yang membantunya. Meski demikian, ia juga mempunyai penghalang yang menghalanginya. ‘Akibat’ tidak akan ada hingga Allah menciptakan seluruh ‘sebab’nya dan menghilangkan seluruh penghalang yang menghalanginya. Kemampuan hamba adalah salah satu sebab. Perbuatan hamba tidak akan ada hanya dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi harus ada kehendak yang kuat yang menyertai kemampuan tersebut.(Ibnu Taimiyah).

Sebab-sebagai-pengantar-akibat terbagi menjadi tiga macam. Seperti yang disebutkan Ash-Shallabi (2014: 379-380), macam-macam sebab antara lain:
Sebab-sebab yang dikenal manusia dengan fitrahnya. Misalnya, hubungan suami istri sebagai sebab lahirnya anak, menebar benih sebab tumbuhnya tanaman, makan sebab kenyang, dan minum sebab hilangnya dahaga. 
Sebab-sebab yang diperdebatkan oleh sebagian orang. Misalnya, mengikuti syariat Allah sebab kebahagiaan dunia dan akhirat, keluar dari syariat sebab kecelakaan dunia dan akhirat, dan doa sebab menolak sesuatu yang tidak disukai dan mendapatkan sesuatu yang diinginkan. 
Sebab-sebab yang tidak banyak diketahui orang. Misalnya, sebab-sebab peristiwa-peristiwa sosial, kemuliaan dan kehinaan, kemajuan dan keterlambatan, kesenangan dan kesulitan, kekalahan dan kemenangan umat, dan lain-lain. Semua peristiwa tersebut memiliki sebab-sebab yang mengakibatkan hasil-hasil seperti itu. Hasil-hasil tersebut tidak mungkin tidak terwujud jika sebab-sebabnya memang terpenuhi. Ia sama dengan peristiwa-peristiwa alam, seperti beku dan mendidihnya air, serta turunnya hujan. Peristiwa-peristiwa ini memiliki sebab-sebab yang Allah takdirkan. Kapan pun sebab-sebab itu terwujud, maka peristiwa-peristiwa itu juga terwujud.
Semua perbedaan antara berbagai peristiwa alam dengan peristiwa sosial adalah bahwa sebab-sebab untuk peristiwa alam bisa dilihat dengan jelas dan kebanyakannya dapat diketahui. Sedangkan untuk berbagai peristiwa sosial, maka sebab-sebabnya banyak sekali, saling terkait, dan sulit untuk langsung dipastikan ketika hasilnya terlihat. 

“Apa yang Allah takdirkan dan putuskan, semuanya ada sebab-sebabnya. Barang siapa menginginkan hasil tertentu, dia harus melakukan sebab yang mengantarkan kepada hasil yang diinginkan tersebut.” (Dr. Abdul Karim Zaidan).

Meski rezeki termasuk ke dalam takdir dan sudah ditetapkan sebelumnya, namun kita diharuskan berusaha untuk mendapatkannya. Begitupun dengan jodoh, ilmu, dan hal lainnya. Semuanya harus diupayakan, tidak bisa hanya dengan ditunggu dan berpangku tangan, karena cara kerja umum takdir adalah melalui hukum alam, yakni dengan melibatkan sebab-akibat.

“Allah ‘azza wa jalla menjadikan jalan sampainya rezeki ini dan jalan mendapatkannya dengan mengambil sebab, berusaha, dan bekerja mencari rezeki masing-masing. Manusia harus mengetuk sebab dalam mencari rezeki.” (Ash-Shallabi, 2014: 380).

Sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu pernah berkata:
“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki lalu dia berdoa, ‘Ya Allah berilah aku rezeki.’ Padahal dia tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak. Allah ‘azza wa jalla hanya memberikan rezeki kepada sebagian kalian dari sebagian yang lain. Tidakkah kalian membaca firman Allah ‘azza wa jalla,

Al-Jumu’ah ayat 10


Begitulah... rezeki tidak turun langsung dari langit berupa hujan emas dan perak, tapi harus dicari di bumi. Jodoh dan ilmu juga tidak langsung diturunkan dari langit. Harus dicari di bumi... dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kita beruntung. Penekanannya ada pada kalimat: ‘Ingatlah Allah banyak-banyak, supaya kita beruntung.’ Kenapa? Karena meski kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi... tentu saja Dia-lah yang menakdirkan hasilnya.

“Orang beriman mengambil ‘sebab’ karena dia diperintahkan untuk mengambilnya. Allah lah yang menakdirkan pengaruh dan hasilnya. Allah yang menakdirkan ketenangan dan rahmat-Nya dan keadilan-Nya serta dengan hikmah dan ilmu-Nya. Hanya Dialah satu-satunya tempat berlindung yang terpercaya dan tempat menyelamatkan diri dari waswas dan kekhawatiran.” (Ash-Shallabi, 2014: 396).

Bersambung...


2 komentar:

  1. Baru baca, ternyata ini part 2 ya...
    Jadi berpikir, jadi dengan ilmu pengetahuan kita bisa menciptakan takdir lain untuk melawan takdir yang telah ditetapkan? Karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa memunculkan sebab yang hasilnya nanti adalah takdir yang baru?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. "dengan ilmu pengetahuan kita bisa menciptakan takdir lain untuk melawan takdir yang telah ditetapkan."
      Lebih pas nya kalo ditambahi kata 'mencoba'. Karena keputusan masalah takdir ada pada Allah. Karena hanya Dia yang Maha Tahu, Maha Bijak...

      2. "Karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa memunculkan sebab yang hasilnya nanti adalah takdir yang baru?"
      Kita tidak bisa memunculkan sebab, yang bisa kita lakukan adalah mencoba memunculkan sebab. Karena jika takdir berkata bahwa: tidak akan ada sebab yang akan muncul setelah kita berusaha memunculkan sebab, maka sebab dan akibat yang menyertainya pun tidak akan muncul.

      CMIIW.

      Hapus

Komentarmu tak moderasi, artinya ya aku baca dengan seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Komentarmu = Representasi dirimu.
Ojo saru-saru lan ojo seru-seru. Ok dab?