Minggu, 05 Juli 2015

Kuberi Satu Permintaan!



Bismillah...
“Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini. Ingin itu. Banyak sekali. Semua semua semua. Dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib!”

Enaknya jadi Nobita. Punya Doraemon yang bisa mengabulkan hampir semua keinginannya. Ingin ini ingin itu, tinggal minta. Tapi pada kenyataannya, ternyata Nobita-lah yang menciptakan Doraemon. Kalau dipikir-pikir lagi, Nobita kecil bisa menjadi Nobita dewasa yang bisa menciptakan Doraemon karena adanya usaha yang gigih.

Tanpa ada usaha, semua mimpi hanyalah angan-angan kosong belaka. Apalah arti segambreng angan-angan kosong TANPA* ada tindakan nyata? Kita hidup di dunia nyata. Bukan di dunia mimpi, bukan pula di dunia delusi. Kalo kawan sekalian pernah baca buku maupun ikut seminar motivasi tentang meraih mimpi, pasti sudah hapal di luar kepala mengenai apa saja yang harus dilakukan.

Cara benar menyusun mimpi biasanya dilakukan seperti ini: tentukan visi misi hidup. Susun daftar mimpi sesuai visi misi, dengan target deadline, plus rincian bagaimana cara meraih mimpi tersebut. Untuk menyusun satu target saja, pastinya sangat melelahkan. Apalagi kalo kita tidak punya keinginan, dan tidak punya visi misi hidup yang jelas.


Ibarat kapten Jack Sparrow dalam film Pirates of The Caribbean yang memiliki sebuah kompas ajaib. Kompas yang bisa menunjukkan arah sesuatu yang sangat diinginkan. Bagi orang lain, tentu saja kompas ini sangat berguna. Tapi bagi Jack Sparrow dalam seri Dead Man’s Chest? Kompas ini lumayan membingungkan. Karena kapten Jack sepertinya memang belum tahu apa keinginan terbesarnya. Atau, memang sebenarnya dia tahu apa yang dia inginkan, tapi segan untuk mengakui keinginan itu. 

Kembali lagi pada cara menyusun mimpi. Ketika ada cara benar menyusun mimpi, maka seharusnya juga ada cara yang salah dalam menyusun daftar mimpi. Dan cara salah menyusun mimpi, biasanya dilakukan seperti ini: mencari daftar keinginan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Cari keinginan hebat sebanyak-banyaknya. Tanpa ada kesinambungan atau benang merah antara mimpi yang satu dengan mimpi yang lainnya. Tulis saja keinginan-keinginan yang tampaknya hebat itu, menjadi sederetan list daftar mimpi. Tak perlu ada tenggat waktu. Tak perlu ada rincian. Lalu draft mimpi tinggallah angan-angan.

Sebuah kalimat yang mungkin akan menampar orang-orang yang suka menyusun sederatan mimpi tanpa tindakan nyata:


“Bukan banyaknya keinginan yang akan menghebatkan Anda, tapi besarnya kesungguhan di dalam satu keinginan yang jelas.” -MTGW.

Jadi, izinkan sekarang saya bertanya:
What do you really want?
Apa yang benar-benar kau inginkan?
Apa yang ingin kau capai di tahun ini?
Ingat, ini sudah memasuki bulan Juli. Tenggat waktumu untuk merealisasikan resolusi tahun ini, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Ramadhan yang sarat dengan do’a yang bakalan diijabahi pun, sudah hampir memasuki bagian sepertiga terakhir.
Jadi, apa yang sedang benar-benar kau inginkan?
Sesuatu yang mungkin baru, yang jika kau lakukan mungkin bisa mengubah hidupmu?
Hal penting seperti apa yang ingin benar-benar kau realisasikan di tahun ini?
Fokus pada satu keinginan!
Satu saja dulu, tak perlu banyak-banyak.
Lalu segera wujudkan keinginan tersebut.

"Kuberi satu permintaan!" (credit)



Andai saja, suatu ketika kau menemukan sebuah lampu ajaib dan jin yang ada di dalamnya akan mengabulkan satu permintaanmu, apa yang akan kau minta? Ingat, hanya SATU permintaan saja! Pikirkan baik-baik apa yang akan kau minta.

Tapi, lampu ajaib dan jin pengabul permitaan kan adanya cuma dalam dongeng?! Jadi, bagaimana kalo kita ubah saja menjadi seperti ini: Jika tahun ini Tuhan akan mengabulkan satu permohonanmu, permohonan manakah yang kau ingin agar Dia kabulkan?

Jadi, sudah tahukah kau pada apa yang benar-benar kau inginkan?


PS:
*Kenapa kata TANPA-nya mendadak capslock jebol? Karena itu mewakili term: tanpa melakukan tindakan apapun HANYA karena ENGGAN melakukan. Kata TANPA di atas, bukan kugunakan untuk mewakili term: Tidak (belum) melakukan karena memang tidak (belum) ada kesempatan untuk melakukan. Seingatku, niat baik itu tetap dicatat sebagai pahala.

CMIIW


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^