Sabtu, 31 Desember 2016

Random 9: Nikahan mbak sepupu

Bismillah...

Bulan Oktober (tahun) lalu mbakku-sepupu satu buyut denganku (sebut saja namanya mbak Anu)  menikah dengan teman pramukaku jaman SMP, sebut saja namanya si Ini. Hampir semua teman SMP, yang rumahnya satu dusun denganku dapat undangan, kecuali aku! Masa’ si MKS-tetanggaku- yang statusnya hanya mantan teman SMP saja dikasih undangan, sedangkan aku yang notabene adalah saudaranya sendiri, malah nggak dikasih?! Aku kan jadi sebal dan su'udzon!

Singkat cerita, H-1 acara resepsi, mbak Anu kepengin tangannya digambari pakai henna. Nah akulah yang didapuk sebagai seksi corat-coret. Meski aku sudah diundang secara langsung jadi seksi  corat-coret, tapi rasanya seperti kurang afdhol kalau nggak dapat undangan berwujud kartu. Alhasil, pas lagi nggambarin tangannya mbak Anu, aku langsung protes menanyakan perihal kenapa aku tidak dikasih undangan. Dan ternyata, aslinya tuh aku juga dikasih undangan. Undangannya dikumpulin jadi satu sama undangannya MKS dan teman-teman lainnya. Lhah? Kalau begitu, undanganku nyelip di mana ya?!

"Kalau gitu, pinjam undangannya satu donk, pengen lihat..." kataku.
"Untung masih sisa satu, nih!" jawab mbak Anu sambil menyodorkan undangan walimahannya.

Jika umumnya dalam undangan walimahan, nama mempelai ditulis lengkap beserta gelar akademisnya, di undangan mbakku nggak gitu. Kata mbakku sepupu, tradisi kantor calon suaminya juga tidak menyertakan gelar pada undangan yang dibagikan. “Biar nggak riya”, katanya...

Wow... Ini langka, man! Anti mainstream. Biasanya gelar akademik itu sengaja dijadikan ajang pamer lho. Mau bukti? Simak terus. :p

****


Acara menggambari tangan menggunakan henna belum selesai, eh sudah ada tamu yang kepengin bertemu dengan calon manten. Menggambarpun dipending dulu, dan tangan yang belum kering karena digambari, akhirnya dipakai buat salaman. Hasilnya... ya belepotan lah~

Karena acara menggambari tangan dipending, aku jadi dapat tugas untuk menunggu kotak duit (kotak tempat dimasukkannya amplop dari tamu yang hadir), sampai penunggu aslinya datang. Nah, pas nungguin kotak duit itu, ada seorang oom-oom yang menyerahkan amplop, dan di amlopnya ditulisi nama plus gelar akademik. Panggil saja dia dengan nama Oom Nganu. Ditulis lengkap dengan gelarnya menjadi Nganu, S.Pd., M.Pd. Tuh kan, serasa pameran gelar. ^0^

Kenapa aku bilangnya serasa pameran gelar? Karena inikan bukan acara akademis yang membutuhkan pengakuan gelar. Inikan cuma acara walimahan. Dan lagi: si oom Nganu ini, sudah bergelar M.Pd, tapi masih menuliskan gelar strata S-1 nya di depan gelar S-2 nya. Aku kan jadi su'udzon bahwa dia memang sengaja pengin pamer gelar. Padahal belum tentu juga sih ya. Soalnya, niat per masing-masing orang, mana ada yang tahu, kecuali dia sendiri sama yang di atas. :,v

****
Belepotan? Aaahhh, ga terlalu kelihatan kug. -_-


Teman SMP

Meski kami adalah saudara satu buyut, dan pernah menjadi teman sekelas sewaktu SMP, tapi aku dan mbak Anu ini tidak seakrab aku dengan kompi A. Ternyata, mbak Anu ini punya golongan darah AB, sama seperti golongan darahku, dan akhirnya dia menikah dengan –si Ini-, yang golongan darahnya O. Padahal kalau di komik golongan darah, selalu digambarkan bahwa AB dan O suka sekali silang pendapat. Dan di komik golongan darah, si AB juga digambarkan selalu meremehkan si O. Aku jadi takjub sewaktu mbakku memanggil si Ini dengan sebutan Mas, kesannya menghormati syekali. Padahal bisa dibilang kami bertiga seumuran. -_-Yaiyalah, wajar donk kalau mbak Anu menghormati si Ini... Diakan calon suaminya!

Kenapa aku takjub? Lha wong si Ini nih dulunya juga teman SMP kami. Malahan dia tiga tahun berturut-turut sekelas dengan mbak Anu. Tiga tahun di SMP, mbak Anu selalu gonta-ganti pacar, sedangkan si Ini... Dia mah tipe kalem. Tiga tahun berturut-turut dia jadi teman pramuka-ku. Pas SMA pun dia juga satu sekolahan denganku. Orangnya memang pendiam tingkat dewa. Mbakku saja bilang, kalau nggak duluan disapa di whatsapp, nih anak pasti nggak ada inisiatif menyapa blas!

****

Rempong cyiiin...

Sewaktu beralih jadi seksi penunggu kotak duit, aku bisa memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Waktu itu, dekornya juga belum selesai dipasang.  Masih ada beberapa detil yang terlewat. Mbak Anu -yang duduk di samping ayahnya dan si Ini- kelihatan bĂȘte, karena hasil dekor-nya tidak seperti harapannya. Mbak Anu mulai beradu argumen dengan ayahnya. And she's start crying! Beuhhh... high tension here. Hari H-1 memang sepertinya bikin suasana menjadi lebih tegang. Mulailah si Ini menenangkan mbak Anu. Saat itu, kupikir si Ini bukanlah si Ini temanku pramuka yang dulu kukenal. Dia berubah, man! (=..=)

Melihat dan memperhatikan orang-orang yang membantu di rumah mbak Anu, membuatku berpikir bahwa upacara pernikahan itu rempong syekali. Mulai dari A sampai Z, telah disusun sedemikian rupa. Kemungkinan besar, setiap upacara pernikahan paling tidak, juga akan menimbulkan kerempongan yang kurang lebih sama. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mereka juga sudah mempersiapkan rencana kehidupan after party?

Kan bisa gawat kalo rencananya cuma difokuskan ke pesta upacara simboliknya doank, sedangkan after ceremony  malah nggak ada persiapan.

Emangnya, ada yang seperti itu, cyin?
Tentu saja ada...

Ada yang lebih suka hanya berfokus pada persiapan upacara pernikahan. Just focus on the ceremony. But didnt pay any attention to the life after ceremony. Akibatnya? Upacara pernikahannya sih bisa dibilang megah, tapi pernikahannya sendiri hanya seumur jagung. Contohnya? Ada. Tetangga depan rumahku. Pesta pernikahan dua hari dua malam. Semua among tamu, berbulan-bulan sebelumnya diberi bakal kain kebaya biar bisa seragaman. Tamunya sampe 2000-an orang. Kug tahu? Tahu donk. Gw kan jadi personel penjaga kado, bersama dengan 3 orang mbak lainnya. Upacara pernikahan ala kampung, biasanya cuma pakai 2 orang penjaga kado dan amplop. Ini mereka butuh 4! So, apakah kemegahan pesta resepsi menjadi tolok ukur akan langgenggnya sebuah pernikahan? Nope.

Trus apa yang musti difokusin? Ya kehidupan after ceremony lah. Ibarat para pelaut yang akan pergi berlayar mengarungi lautan, upacara pemberangkatannya sebagai tanda perpisahan pada kehidupan lama untuk menyongsong babak baru-. Setelah upacara pemberangkatan dan ketika berlayar menuju tujuan, pastinya bakalan ada badai serta halangan yang merintang. Jadi, alangkah baiknya jika sebelum berlayar, bahkan sebelum upacara- sudah menyiapkan bekal dulu. Apa jadinya kalau bekalnya baru disiapkan setelah upacara? Keteteran lah~

Tapi...
Ngumpulin bekalnya jangan kelamaan juga. Nanti malah nggak segera berlayar gegara takut akan halang rintang yang akan menghadang. Takut kurang bekal, takut kurang siap, and so on and so forth...

Seperti kata sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:
"Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri."
Nasihat ini terutama berlaku buat gw yang terkadang suka paranoid sendiri... -_-

****

Ibroh:

1. Jodoh datang dari arah yang tak terduga. Siapa tahu, jodoh yang kita nanti-nantikan bukanlah orang yang jauh dari negeri antah berantah. Bisa jadi dia adalah teman masa kecil kita, mantan tetangga kita, teman sekolah, teman seorganisasi, tetangga kita sendiri, atau siapapun itu yang 'garis edarnya' sama dengan 'garis edar' kita.a

2. Kalau menurutku pribadi, sih... Pernikahan bukanlah sebuah akhir. Tapi merupakan sebuah permulaan untuk mengarungi babak baru kehidupan. Maka jangan hanya fokus pada upacara simboliknya saja, tapi lebih fokuslah pada kehidupan setelah upacara pernikahan. Dan mau dimantu atau tidak, dimantu megah atau biasa, itu bukan menjadi tolok ukur bakal langgeng atau tidaknya sebuah pernikahan.

3. Karena idealnya pernikahan adalah bertujuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, maka selektiflah dalam memilih partner hidup. Pilihlah yang bersedia menjadi partner kita. Karena percuma saja jika dia seganteng Gaspard Ulliel dan sedermawan Christiano Ronaldo, atau secantik Alexandra  Botez dan seseksi Katrina Kaif, atau sejenius Nikola Tesla dan semenggemaskan Senpai, tapi nggak mau menjalani hidup bersama kita.

Ingat selalu wejangan bang Tere Liye:
"Jodoh yang baik itu bukan ketika dia memenuhi seluruh kriteria yang kita inginkan. Memiliki segalanya.
Jodoh yang baik itu, pertama-tama, pastikan dia mau dulu sama kita. Toh, kalaupun dia tidak memiliki segalanya, minimal dia mau menghabiskan waktu hingga tua bersama kita lebih dari segalanya."
-Tere Liye

Sekian, dan terimakasih.
Have a nice day, and see you all next year.  ^0^

****

PS: Khusus buat mbak Anu kalau ternyata membaca tulisan ini, nanti jika suamimu macem-macem, suruh dia nyebutin Dasa Dharma Pramuka satu sampe sepuluh aja, mbak. Trus ditagih deh tuh Dasa Dharma. :v


26 komentar:

  1. dimantu itu maksudnya diadain acara ngunduh mantu gitu?

    jadi inget omongan salah satu artis jaman dulu. katanya kalo pas ribut sama pasangan mereka bakal nginget kalo ongkos nikahan mahal, jadi mesti langgeng pernikahannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimantu maksudnya diadakan pesta, mbak. Baik di pihak perempuan ataupun di pihak laki2. Kalo di daerahku, istilah ngunduh mantu hanya digunakan utk pihak laki2. Jadi, setelah di tempat si perempuan diadakan pesta resepsi, biasanya beberapa hari kemudian pihak keluarga laki2 yg giliran mengadakan pesta (pihak perempuan mengantarkan kedua mempelai ke rumah pihak laki2), dan disebut ngunduh mantu.

      Kalo sekarang mah, nikah tinggal ke KUA. Dan itupun gratis, katanya. Soal mahal tidaknya ongkos, tergantung akan dimantu apa tidak. :D

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :,)

      Meski rasanya seperti sedang ditampar dan ditusuk dari belakang, tapi terimakasih sudah mengingatkan, bahwa saya terkadang memang keterlaluan.

      Saya sudah mencoba meminta maaf lagi, tapi entahlah...

      NB: Maaf kalau komentar jenengan saya hapus. Saya sangat tidak suka menjadi pusat perhatian.

      Hapus
    2. "Saya sangat tidak suka menjadi pusat perhatian".

      hahaha, memangnya siapa yang tertarik perhatiin kamu? ane udah lihat akun twittermu. di header, kamu berfoto dari belakang. di ava, kamu nutupin muka dengan helm. jelas sudah, kamu pasti sadar kalau sangat jelek. sebegitu jelek sampai sangat malu nunjukin muka. jadi siapa yang tertarik merhatiin kamu?

      ngomong sendiri "sangat tidak suka menjadi pusat perhatian" tapi kelakuannya gak tahu malu dalam mencari perhatian. kalo udah sadar mukanya sangat jelek, mestinya perhatiin sikap, biar gak sejelek muka.

      Hapus
    3. Wow... argumentum ad hominem dan straw man fallacy, di saat yang bersamaan.
      :D

      Hapus
    4. Wow! Saya gak tau apa yang terjadi alur komentar-komentaran ini... Tapi, wow!

      Hapus
    5. Wow, kenapa malah menyimak komentar bukannya menyimak tulisan? -_-

      Hapus
  3. Lha kan sedulurnya mah otomatis kudu tau, perlu rewang juga otomatis, masa' kudu di kasih invitation juga? Dan ternyata JODOH itu ma khaitsu laa yahtasib juga ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang sudah diberitahu, dan sudah jadi rewang. Tapi ada yg janggal kalo gak dapet undangan.

      Datangnya dari arah yg tak disangka2, memang seperti rezeki dan ajal.

      Hapus
    2. minta potomu, dong ... *CV Bhahahaha

      Hapus
    3. Foto apa? Di instagram sudah ada foto hasil jepretanku, kan?
      Kalo foto muka, di postingan muka angker, sudah ada.

      Hapus
  4. Ada konten sensitif yah di sini? Kok jadi ga enak gitu ya bacanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagian mana yg terkesan sensitif? Kutip donk. Ntar gw tinjau lagi, kalo sekiranya perlu diedit, ntar gw edit. :D

      Hapus
    2. Ga tau, makanya saya nanya. So far so so.

      Hapus
    3. So far so so? Apa ini maksudnya? -_-


      Setahuku sih gak ada yg sensitif. Atau jangan2, gw nya saja yg gagal paham tingkat sensitivitas orang per orang. Makanya butuh kutipan, bagian manakah yg so far so so?

      Hapus
    4. Khukukuku...
      Ga usahlah dibahas, komentar ini terlalu random.

      Hapus
    5. Patah hati membuat tertawamu jadi aneh, eh?

      Gak jadi bahas komentar, bahas tulisan terbarumu itu. :p

      Hapus
    6. Yaelah, tulisan baru dimana?
      (Terlalu banyak blog)

      Hapus
    7. Blog mu yg kutahu cuma great piscean. Ada lagi? Yang dulu pernah dihapus dihidupkan lagi?:D

      Hapus
    8. Khukukukuku...
      Ternyata singgah di GP ya...
      Nggak, yang dihapus ya dihapus. Gitu aja.

      Hapus
    9. Jangan2 sekarang kamu jadi anggota ku klux klan ya? Ketawanya khukukuku mengerikan. -_-

      Hapus
  5. aku dulu juga pas nikah ga nyantumin gelar
    karena emang ga punya gelar, haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, kalo waktu itu sudah punya gelar, bakal dicantumin juga? Wah...
      :D

      Semoga selalu langgeng ya John.

      Hapus
  6. ini rupanya blog cewek gak tahu malu yang lagi rame itu, hahaha. nulis postingan pake bismilah, penampilan kayak islami banget, tapi ternyata eh ternyata cuma buat nutupin kebusukan yang sekarang akhirnya terungkap. kelakuanmu emang menjijikkan sih ya, malah lonte aja gak sampe segitunya. lonte mungkin hina, tapi mereka gak sampe ngejar2 laki apalagi sampai mencampuri urusan hidupnya. lah kamu sok islami tapi kelakuan lebih hina dari lonte. xixixixi

    BalasHapus

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^