Jumat, 25 November 2016

Random 1: Muka Angker (Part 2)

Bismillah...


"Did you know the people that are the strongest are usually the most sensitive? Did you know the people who exhibit the most kindness are the first to get mistreated? Did you know the one who takes care of others all the time are usually the ones who need it the most? Did you know the 3 hardest things to say are I love you, I'm sorry, and Help me?
Sometimes just because a person looks happy, you have to look past their smile and see how much pain they may be in.
To all my friends who are going through some issues right now--Let's start an intention avalanche. We all need positive intentions right now. If I don't see your name, I'll understand. May I ask my friends wherever you might be, to kindly copy and paste this status for one hour to give a moment of support to all those who have family problems, health struggles, job issues, worries of any kind and just need to know that someone cares.
Do it for all of us, for nobody is immune. I hope to see this on the walls of all my friends just for moral support. I know some will!! I did it for a friend and you can too."
*You have to copy & paste this one, no share button, please.

-dapet ngopi dari wall fesbuknya bang Jack Saja, yang kini akunnya sudah hilang entah kemana.

****

muka angker
Did you know the people that are the strongest are usually the most sensitive? (Credit)


Menurut bro Yong Kang Chan, yang aku ambil dari situs Lifehack, orang yang berpenampilan tangguh itu...
“Initially, they seem rather unapproachable and cold, but as you get to know them, you discover that they have a warm side too.”
Le me said: ya begitulah. Dalam kasusku sih, aku memang ‘Serious outside, but crazy inside’. Orang yang nggak benar-benar kenal denganku, mengira aku ini pendiam yang congkak, unsocial, mengintimidasi, serius, misterius, dan mengerikan. Tapi kalau sudah kenal dekat, hancurlah semua image nggak enak tersebut.

Masih menurut bro Yong Kang Chan,
“Some might even mistake their confidence as arrogance. They are typically not the first people you approach to be friends with.”
Le me said: Nah yang ini bisa dibilang bener juga. Waktu SMP dulu, aku pernah didamprat senior Pramuka-ku. Dia pikir aku ini orangnya sombong, karena aku pernah ketahuan lagi berjalan kaki dengan pedenya, dan tidak mau menyapa waktu melewati dia. Faktanya: aku tuh orangnya cuek bebek. Benar-benar tidak tahu kalau waktu itu berjalan melewati senior, jadinya aku tidak menyapa. Ini wajar kan?!

Hey, dari kemarin ngaku-ngaku sangar dan angker, tapi kan nggak ada foto sama dengan hoax!

Huuufffttt... suka ngemeng kalau aku ini sangar, tapi tidak pakai bukti? Wokey, sekali-kali numpang tampang tanpa sensor di blog nggak papalah. Foto di bawah ini diambil dalam sebuah perjalanan mencari kak Eno. Kami berempat (aku, Oyiz, Ikho, dan Dee) dibikin muter-muter keliling kota karenanya. Dua temanku, Dee dan Ikho, terlihat masih memiliki ekspresi ceria (meski wajahnya Dee minta disensor sih), sedangkan aku? Ya begitulah. -_-

Muka angker
Kiri-kanan: Dee, Ikho, dan aku. (Credit to: Oyiz)


Bagaimana? Ekspresi flat face-nya sudah lumayan kelihatan, kan?

****

Ada akibat, tentu saja harus ada sebab yang mendasari. Setiap manusia terlahir suci dan bertampang unyu. Pengalaman dan pengetahuanlah yang membentuknya, entah itu menjadi makhluk yang lebih ramah atau gampang marah; entah itu menjadi makhluk yang halus tutur bahasanya atau tegas dan cablak. Kita yang sekarang adalah akumulasi dari berbagai pilihan, yang telah kita buat di masa lampau dan disetujui oleh-Nya. CMIIW.

Kembali ke pembahasan ‘muka angker’. Di antara saudara-atau-teman-atau-tetangga-atau-kenalan kawan sekalian, pastinya ada salah seorang yang tampilannya ‘angker’, tapi setelah kenal dekat ternyata dia tak seangker penampilannya, ada nggak? Pernahkah teman-teman sekalian bertanya, kenapa dia sampai bisa bertampang angker? Bukankah di balik suatu hal, selalu ada hal lain yang mendasari?


Orang yang bermuka sangar itu... Dia ingin terlihat kuat, padahal sebenarnya rapuh.
“People who try harder to look tough, usually are the ones that need more affection.”
-Kutipan dari gambar 9gag di atas.

Tapi... sepertinya tidak semua orang berwajah angker, punya kerapuhan seperti kami dink

Ini kisahku, orang yang tampilan luarnya angker, tapi sebenarnya berjiwa unyu. Dan, karena aku ini orang yang cukup labil; terkadang rupa berubah menjadi unyu, tapi jiwanya malah sangar. Singkatnya, penampilan sering tidak sinkron dengan kondisi kejiwaan. Halah.

Jika dilihat dari luar, aku ini seperti orang yang ‘keras’, tapi sebenarnya sih cémén. Kenapa orang yang sebenarnya cémén bisa berpenampilan keras? Itu karena waktu kecil dulu, aku merasa harus bertanggung jawab atas teman mainku. Kenapa? Karena akulah mbak-gengnya. Kalau sedang bermain, seringnya aku menjadi yang paling tua di antara semuanya, makanya mereka memanggilku mbak.

Tahu nggak kawan? Dipanggil mbak-mbek-mbak-mbek tuh rasanya nggak enak. Seolah-olah harus berperan sebagai pengayom. Dan kalau terjadi sesuatu, memang aku yang biasanya disalahkan oleh orang tua kami. Kalau ada pertengkaran, aku juga yang disuruh mengalah dengan alasan, ‘Masa’ nggak bisa ngalah sama adik-adik?!’. Eeuuwww. Semacam diskriminasi umur. Karena itulah, sejak SMP aku betah sekali di organisasi Pramuka.

Di Pramuka, kakak-kakak senior selalu memanggil juniornya dengan sebutan, ‘dik’. Dipanggil ‘dik’ itu rasanya menyenangkan, karena aku memang tidak punya kakak biologis yang selalu memanggilku ‘dik’. Dipanggil ‘dik’ itu rasanya seperti seolah ada yang ngemong dan mengayomi. Tapi alasanku betah di Pramuka bukan cuma itu saja sih. :D


Kenapa muka gw angker? Karena gw tumbuh dikalangan laki-laki. Dan sebab itu, gw selalu ingin terlihat kuat. Gw kan mbak geng!

Tumbuh di antara laki-laki, ada beberapa hal yang aku tahu: mereka tidak suka terlihat lemah, mereka tidak suka mengalah, mereka tidak suka kalah dan hampir selalu ingin berada di posisi teratas. Well, sikap tidak ingin terlihat lemah dan merasa ‘I can do everything by myself’, sepertinya teradopsi olehku. Dan lama-kelamaan, sifat itu membuatku LELAH!

muka angker
Kiri-kanan: Keponakanku, aku (seumur gitu gw udah jadi tente :D ), dan adikku. Unyu, kan?


“Menurut anak laki-laki, kerugian orang lain sama sekali tidak ia pedulikan. Sebab ia hanya memperdulikan keuntungan yang bakal diterimanya.... Pada saat itu dalam pikirannya tidak terlintas rasa sengsara dan sakitnya orang lain yang mengalami kekalahan.” (Thariq Kamal An-Nu’aimi, 2015: 125)

That’s it. Aku tumbuh bersama dengan bocah-bocah yang tidak akan peduli saat aku sakit hati karena ‘tertinggal’. Mau se-ekspresif dan selebay apapun perasaan yang kuekspresikan, tidak akan berguna di hadapan mereka. Karena mereka memang bocah-bocah yang cuek bebek. Itulah yang membuatku terbiasa untuk meredam ekspresi dan terbiasa untuk bersikap cuek. (Atau, bisa jadi hal ini terjadi karena golongan darahku yang AB? Mbuhlah~)

Adaptasi dengan mereka itulah, yang membuatku suka menggunakan topeng kuat, padahal dalam hati remuk redam. Kalaupun aku bersikap lemah, yang ada aku malah bakal dianggap remeh dan disepelekan. Dan aku nggak suka dianggap remeh oleh bocah yang lebih muda dariku, aku kan mbak geng!

Tapi... itu dulu... Semuanya berubah sejak negara api menyerang. -_-

So... dear brothers... If all of you coincidentally find this absurd post, let me tell you something: Gw memang sudah berubah, gw gak akan bersikap setangguh dulu, gw gak akan melanggar fitrah terlalu jauh. Gw bukan lagi mbak geng. Gw lelah, man!


****

muka angker
Bahkan Kang Mae yang tampak tangguh dan galak itu, bisa sangat khawatir ketika anjing kesayangannya –Toven- overdosis pil tidur. (credit)



Realita

Ternyata, orang yang suka pura-pura tangguh tapi dalamnya rapuh itu bukan cuma aku saja. Mungkin di antara kenalan teman-teman sekalian, juga ada yang suka pura-pura tangguh tapi rapuh: Tampilan luarnya serius dan mengerikan, tapi setelah kenal ternyata selengekan.

Ingin berteman dekat dengan tipe orang seperti ini? Orang-orang seperti kami, menurut bro Yong Kang Chan (yang masih kuambil dari situs Lifehack), ternyata mempunyai beberapa ciri khusus. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Orang seperti kami, tidak tahu bagaimana cara untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya intim. Kami sering sekali disalah artikan sebagai orang yang dingin, karena tidak biasa mengekspresikan perasaan.

  • Orang seperti kami suka berbicara blak-blakan, karena kami sebenarnya peduli pada kalian. Kami biasanya sangat jujur dan sangat to the point. Terkadang, kami bahkan terdengar kasar dan kritis. Tapi kami sebenarnya tulus ingin membantu kalian. Hanya saja... kami bukanlah seseorang yang memiliki pembawaan halus.
Le me said: kalau stereotype mengatakan bahwa semua perempuan Jawa memiliki tutur kata yang halus dan lembut, itu tidak benar. Aku ini asli Jawa, lahir dan besar di Jawa. Tapi sukanya ngomong tanpa tedeng aling-aling. Apakah Tuhan telah salah membuatku terlahir dari keluarga Jawa? Bukankah seharusnya aku terlahir menjadi orang Batak saja? No. Tuhan tak pernah salah.

  •  Kami juga bisa terluka oleh kata-kata kasar.
Meski suka berbicara blak-blakan, tapi sebenarnya kami bermaksud baik. Jika orang lain menyalah-artikan kebaikan ini dan memanggil kami dengan sebutan yang menyakitkan hati, kami juga akan tersakiti. Kami mungkin bisa berpura-pura seolah tidak ada yang salah, tapi sebenarnya hal itu juga menyakiti kami, sama seperti ketika kata-kata kasar menyakiti kalian.

  • Kami tidak akan mendengarkan keluhanmu ketika tahu bahwa kami tidak bisa membantumu.
Bukan karena kami tidak peduli, tapi karena kami paham bahwa kami tidak bisa membantumu. Kami paham bahwa kunci untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, adalah tergantung kepada yang menjalani kehidupan itu sendiri. Jika kalian tidak ingin mengubah hidup kalian agar menjadi lebih baik, maka tak ada yang bisa kami lakukan untuk membantu. Jadi, kami tidak akan membuang waktu hanya untuk mendengarkan keluhan kalian mengenai hal-hal yang tidak ingin kalian ubah.

  • Kami juga punya masalah
Hanya karena kami terlihat tangguh, tidak berarti bahwa kami sama sekali tidak punya masalah. Kami hanya tidak mengeluh dan merengek kepada orang lain, karena kami tahu bahwa keluhan dan rengekan tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Jadi kami memilih untuk menghabiskan waktu menyendiri, berpikir mengenai cara untuk menyelesaikan masalah kami sendiri.

  • Kami juga membutuhkan bantuan orang lain
Kami mungkin terlihat independen, dan bisa mengerjakan banyak hal sendirian. Tapi terkadang kami juga membutuhkan bantuan dari orang lain. Terkadang, kami tidak tahu bagaimana cara untuk meminta bantuan, karena merasa terlalu malu untuk meminta 

  • Takut terlihat lemah
Salah satu alasan mengapa kami tidak memperlihatkan emosi adalah karena kami takut terlihat sebagai orang yang lemah. Kami takut bahwa orang lain mungkin akan mengambil keuntungan dari kesedihan kami. Itulah yang membuat orang-orang seperti kami, lebih memilih untuk menyembunyikan perasaan.

  • Kami membangun dinding-tak-kasat-mata untuk melindungi diri kami secara emosional
Kami mempunyai rasa insecure. Kami tidak suka terlihat rapuh, dan terikat secara emosional kepada orang lain, karena kami pernah terluka. Jadi, kami membangun tembok untuk melindungi diri kami, dari sakitnya terluka lagi.
  • Kami sulit untuk membuka diri
Kami hanya bisa terbuka dengan teman terdekat saja, dan selalu menjaga jarak dengan orang yang baru kami kenal. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kami untuk bisa mempercayai seseorang. 
Bukankah semua orang juga seperti itu?

  • Kami tidak terlalu mementingkan perasaan*
Meski hati kami sehalus sutra *njaaahhh, apa iya?* kami tidak terlalu percaya pada perasaan. Kami percaya bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan. Kami juga takut bahwa dengan mengedepankan perasaan, malah akan menyesatkan. So, kami lebih memilih untuk mengandalkan logika dan kekuatan mental untuk membuat keputusan sulit.
*Sejak beberapa tahun yang lalu, poin ini nggak berlaku bagi gw, karena kadang gw juga suka mengandalkan firasat kebatinan. Wakakaka.

  • Kami bersikap lebih keras lagi terhadap diri kami sendiri
Jika kalian berpikir bahwa harapan kami pada kalian terlalu tinggi, cobalah berpikir mengenai harapan kami terhadap diri sendiri. Harapan ini lebih besar dari harapan kami kepada kalian. 

  • Kami selalu serius ketika menjalin hubungan
Kami selalu selektif ketika memilih sahabat dan ketika akan menjalin hubungan. Jumlah teman kami mungkin tidak sebanyak jumlah teman kalian, tapi kami sangat dekat dengan teman kami. Meski kami tampak tidak nggagasan dan acuh tak acuh, tapi sebenarnya kami ini orangnya supportive dan setia pada sahabat. *apa iya?*

  • Kami juga butuh kasih sayang dan butuh sebuah hubungan, sama seperti orang lain pada umumnya.
Kami mungkin tampak tidak tertarik pada cinta, kasih sayang dan sebuah hubungan. Tapi jauh di dalam lubuk hati, kami berharap dapat menemukan pasangan dan ingin dicintai. Kami terlampau malu mengenai hal-hal yang berbau romantis. Dan kemandirian kami, mungin saja membuat orang yang berpotensi sebagai pasangan yang tepat, malah pergi menjauh. *apa iya?*

“Pahamilah bahwa orang-orang yang berpura-pura tangguh mencoba untuk melindungi hati mereka yang lembut dan rapuh itu, dengan penampilam yang sok kuat. Dan jika kalian berteman dengan orang-orang seperti itu, tetaplah menjalin silaturahmi dengan mereka. Mereka mungkin terlihat independen, tapi sebenarnya mereka juga membutuhkan sahabat.” ( Yong Kang Chan, LifeHack )

Bersambung...


25 komentar:

  1. Eh, ternyata udah yang kedua. Nggak sempet liat yang pertama muncul di dasbor blogspot.

    Aku sering dibilang judes/serem (kadang karna muka, kadang karna postingan di blog, padahal kan postinganku gak galak). Nggak tahu sebabnya. Mungkin udah bawaan orok. Mungkin ditambah pengaruh didikan keluarga dan pengalaman hidup bikin susah menunjukkan affection, and that makes me look cold.

    Kalo soal orang Jawa ... mereka nggak selalu halus kok. Mungkin untuk Surakarta dan sekitarnya keliatan alus. Nadanya. Pilihan katanya ya belum tentu. Bisa jadi lebih nyelekit dari yang ngomongnya kaya mbentak2. Orang Jawa daerah lain juga nggak alus2 amat. Aku kadang dengernya malah kaya berantem :D Kalo orang ngapak mah udah jelas ya nadanya gak alus. Soal ngomong yang nggak blak2an juga bukan monopoli orang Jawa. Aku ketemu suku lain juga banyak yang ngomongnya A padahal B, bilangnya nggak papa padahal sebel setengah mati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mana fotomu, mbak? manaaaaa? diaplod dunk... buat bukti dan pembanding: lebih nyeremin mana sama mukaku? :D
      Pas dulu fotomu dicatut bang eksak ke blog, aku belum sempat lihat. :(

      Postingan di blogmu memang gak galak mbak, tapi... kritis. Mungkin itu yg bikin aura tulisannya jd tampak angker. Lagian, bukankah suasana hati ketika menulis juga ikut mempengaruhi aura tulisan? Mbuhlah~ :v

      Bawaan orok? Apaiya pas balita dirimu sudah sangar, mbak? Imposibru~ XD

      Bukan cuma nada, mbak. Tapi pemilihan kata dan ekspresi. Sepertinya mereka memang ingin terlihat sebagai orang yg halus bahasa dan budi pekertinya. Misal, kalo disuguhi makan, harus malu-malu dulu. Trus lagi, budaya ewuh pakewuh, tidak boleh banyak nanya (padahal memang belum tahu) biar gak dianggap lancang, ditawari apa gitu kek lalu (harus) pura-pura tidak mau (biar dipaksa dulu), dan seterusnya. Dan itu bukan gw bangeeetth. Berasa jadi alien.

      Kalo mau, ya bilang aja mau kenapa musti pake acara malu-malu? Kalo nggak suka ya bilang aja, kenapa musti pura-pura lalu malah ngrasani di belakang? Kalo belum tahu, kenapa gak tanya, tapi malah cuma menduga-duga dan akhirnya keliru? -_-

      *kenapa aku malah curcol?*

      Betewe, didikan keluargamu memangnya seperti apa sih mbak?

      Hapus
    2. knp curcol ku malah terkesan mendiskreditkan ya mbak? karena kebanyakan yg kutemui memang begitu: baiknya cuma topeng, bukan baik yg sebenar-benar baik.

      Mungkin opiniku akan berubah kalo aku sudah ketemu dg orang yg pada dasarnya memang baik budi pekerti dan bahasanya, luar biasa unggah-ungguhnya, benar-benar menjaga adab sopan santun, yang bukan cuma dikenakan sebagai topeng.

      That's person must be a rare...

      Hapus
    3. Teuteup gak mau pasang poto di blog :p
      Dulu dia bukan nyatut di blog tapi nyatut trus nge-share di grup facebook WB -_-

      Postingan-ku masih berasa emosinya ya? Padahal sebagian udah disaring kata-katanya biar nggak kaya orang marah2. Biasanya nunggu beberapa hari dulu setelah kejadian baru nulis. Tapi, sebagian emang kubiarin pake kata2 yang menggambarkan emosiku sih.

      Kayanya bawaan orok. Soalnya kalo liat potoku dari kecil kayanya jarang banget yang senyum. Banyakan jutek.

      Kalo soal malu2 pas disuguhin makanan, kayanya bukan monopoli orang jawa juga. Suku lain juga gitu. Dan kayanya umum. Kalo sama orang yang belum kenal banget kan biasanya jaim gitu. Kalo udah kenal lama, gak ditawarin juga udah diabisin. Kayanya sebagian besar curcolmu itu tentang sifat umum manusia deh, bukan suku tertentu. Baik di depan, di belakang nusuk. Sikap orang kan biasanya disesuaikan sama image yang ingin dia kesankan ke orang lain. Dan kayanya nggak ada orang yang pengen punya image jelek. Jadilah mereka bersikap baik di depan orang lain. Kalo di belakang, entah. That's not uncommon.

      Kok aku jadi keliatan skeptis banget yak :D

      Hapus
    4. jailnya kebangetan dia emang. :D

      emosinya sih gak berasa, cuma terkadang masih ada kesan 'tajam dan menusuk'nya mbak. :v

      dari kecil fotonya jarang senyum? apa iya? mana buktinya? no picture = hoax lho. *dikeplak*

      karena mbak milo udah melanglang buana, aku percaya aja deh: bahwa itu bukan monopoli orang jawa. :D

      skpetis? atau mungkin lebih tepatnya disebut berhati-hati? pernah ngalami perasaan gak enaknya ditusuk dari belakang mbak?

      Hapus
    5. Kayaknya di situasi tertentu aku bahasaku emang nusuk sih. Dan itu sengaja :D

      Gapapa deh dianggep hoax :P

      Kalo ditusuk dari belakang sih nggak. Cuma ya beberapa kali ada orang yang di depan A ngomongin kerjaan dia (si A) beres, di depan B ngeluh kerjaan si A nggak beres. Mungkin niatnya nggak jelek, nggak pengen nyinggung si A. Tapi tetep aja ya njelekin di belakang. Dan kebanyakan orang kaya gitu kayanya, karena nggak mau dianggep jahat (kalo ngomong langsung ke orang yang dijelekin).

      Hapus
    6. Menusuk dg kata-kata. Itu pasti dilakukan saat sudah suebbeell puol kan mbak? :D

      Bukannya mending langsung diomongin ke orangnya aja ya mbak? Kan dia jd tahu kerjaannya bagus apa nggak, kalo ada kekurangan kurangnya dimana. Kalo ketahuan ngrasani di belakang, bukankah malah tidak enak ya?
      -_-

      Hapus
  2. oooh, ini cewek yang gak tau malu itu? foto dipostingan ini negasin kalau lo emang jelek, dan lo juga nyadar kalao lo emang angker. udah nyadar jelek gitu tapi gak tau malu ya, agresif deketin & ngejar2 cowok sampe menjijikkan gitu. lonte aja gak sampe segitunya! lo lebih gak tau malu dibanding lonte! penampilan aja sok-sok muslimah, tapi kelakuan memalukan & menjijikkan. nyadar dikit napa mbak? maksud gw nyadar kalo lo tuh jelek banget, jadi gak usah sok-sokan bakal ada yang ketarik ama lo. liat muke lo kek gitu, cowo2 bukannya ketarik tapi malah pengin muntah! sebelum banyak tingkah, mending lo ngaca dulu.

    BalasHapus
  3. heh, cewek buntet, akun twitter lu udah dihapus ya? mau kita bantai rame2 sebenernya, biar orang2 pada tau kelakuan lu yang menjijikkan itu. lu pikir ava pake helm gitu kelihatan lucu? lucu kalo lu cantik. masalahnye, lu jelek! bukannya lucu malah bikin muntah. udah jelek, kontet, kerdil, gak tau malu. udah ngaca lu? sering2 ngaca, biar lu liat kayak apa muke lu yang jelek itu, sebelom ngerayu2 gak tau malu. yang cantik aja masih punya malu, lhah elu udah jelek gak tau malu. emang lu lebih hina dari lonte! sok pake hijab tapi kegatelan!

    kita juga udah liat foto lu di fb yang sok mau mau manah itu. ngakak sampe muntah. bawa panah, duduk di dingklik! dasar kontet! lu pikir keren gitu ya? hahahaha, keren kalo lu cantik. masalahnya lu jelek, kontet, kagak tau malu & banyak tingkah. bukannya keren, yang ada malah bikin muntah. dasar kontet!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah...

      "Falling in love is confusing, scary, funny, and life-changing all at the same time."

      Karena selalu ada sebab yang mendahului akibat. So, izin kan saya mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.

      "Saat kita jatuh cinta, bagian otak yang bertugas sebagai pengontrol depresi dan analisis, sama sekali tidak bekerja, sebaliknya bagian otak pengontrol intuisi, rasa “ser-seran” dan bagian otak yang bekerja merespon obat bekerja dengan aktif. Jadi tidak heran kenapa orang yang jatuh cinta kerap melakukan hal-hal bodoh, karena mereka -mungkin- “bekerja” tanpa menggunakan otak.

      "Mengingat penelitian biologi saat ini, tampaknya bahwa ungkapan 'jatuh cinta membuat gila' bukan hanya metafora. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa jatuh cinta secara fisiologis mirip dengan penyakit mental.

      Misalnya saja gangguan seperti OCD (Obsessive- Compulsive Disorder). Si penderita OCD biasanya mempunyai pikiran tertentu yang tak dapat dilenyapkannya (obsesi) atau melakukan suatu tindakan berulang-kali tanpa kendali (kompulsi). Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan serotonin, dan ketika dipelajari, peneliti menemukan bahwa seseorang yang jatuh cinta memiliki kadar serotonin 40% di bawah normal.
      (https://jarimanisindonesia.wordpress.com/2012/12/09/cinta-membuat-seseorang-menjadi-gila/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C7575058211)


      Yuuhuuu... I do falling in love at that time. I am sure enough that it is my first love. And thus condition made me so crazy, doing a lot of embarrassing things like a maniac...


      Hapus

    2. But... Let's analyze it sista...

      "There's a reason why your crush got you lookin' so crazy:

      We've talked about which regions of the brain become hyperactive when finding that special someone, but which parts of the brain deactivate? Semir Zeki of University College London and Dr. Helen Fisher from Rutgers University's Department of Anthropology utilized MRI scans to observe the brains of smitten persons, and what they discovered provides insight into why love makes us act so damn foolish.

      The amygdala and frontal and prefrontal cortecies demonstrated diminished activity, and it just so happens those are the neurological regions “associated with fear, ...learning from one's mistakes,...analysis and judgement, delayed gratification, and predicting the outcomes of events.” If the areas of our brains responsible for these critical thinking abilities aren't fully functioning, is it any wonder that many of us make the same mistakes over and over again in love? It's awful to look back on past courtships only to ask yourself, “What the hell was I thinking?!” But at least you'll know that your erratic behavior wasn't entirely your fault. Your body BETRAYED you, after all."
      (https://www.bustle.com/articles/85844-what-happens-when-you-fall-in-love-8-surprising-things-that-happen-to-your-body-because?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C1669710036)


      See... suatu saat, ketika kau jatuh cinta, kau akan mengalaminya juga. Saat itu terjadi, mungkin kau akan lebih bisa berempati terhadap kondisiku...

      Hapus
    3. "Love is physically addictive.
      Falling in love activates areas in the brain that scientists have also found activated in the brains of cocaine addicts. In a 2010 Syracuse University study published in the Journal of Sexual Medicine, Stephanie Ortigue and her team of researchers, found that the dopaminergic subcortical system in the subjects' brains lit up (which is the neurological region also activated in cocaine addicts). When this area and other areas of the brain start working, they “release euphoria-inducing chemicals” — hormones including dopamine, oxytocin, adrenaline, and vasopressin.

      Oxytocin is also known as “the love hormone” because it's what causes that warm and fuzzy feeling, and vasopressin can cause “aggression and territorial behavior.”

      Adrenaline and norepinephrine also lead to feelings of “elation, craving, and focused attention.”

      This explains the one-track mind you often adopt at the beginning of a courtship, unable to think about anything besides him.

      Donatella Marazziti, Professor of Psychiatry and Director of the Laboratory of Psychopharmacology at the University of Pisa, discovered that people at the beginning of a new romance produce less serotonin in their brains. There are also diminished serotonin levels in the brains of those who have Obsessive Compulsive Disorder. As explained in mental_floss, “Since both conditions (to different extents) also give rise to feelings of anxiety and obtrusive thinking, it is tempting to think of early love as a mild, temporary form of obsessive behavior.”
      (ibid)

      "Helen Fischer, American anthropologist and human behavior researcher, did a TEDTalk about the chemistry of falling in love.

      Dopamine
      This chemical controls craving, addiction, reward, and motivation. The addictiveness to love can be compared only to that of a drug addict, responding to love as an addict would to needing a drug. Love does get you high, but in a different way. We, as humans, whether people like to admit it or not, are addicted to the idea of love and are constantly looking for that person to gives us those feelings.

      Serotonin
      This chemical controls moods and obsessive thoughts. Do you ever wonder why you can’t stop thinking about someone you just met?

      When rejection plays a part in a relationship even more serotonin is released causing you to think more about a specific person. Then dopamine is released and you are craving the person’s attention and you want the reward of success.

      Estrogen and Testosteron

      Love is one of the most addictive things life has to offer us. Anyone who has made it out alive, even if they got hurt, understands the power love has over us. There is no telling when you will fall in love or with whom and while you can’t control it, you can recognize major factors that play into the chemical process.

      So next time you fall in love and you think you are going crazy, just remember it isn’t you - it’s chemistry."
      (http://www.puckermob.com/relationships/the-science-of-falling-in-love-chemistry-or-fate)

      Hapus
  4. Falling in love is a wonderful phase: if we can't be happy, we still could learn something from it.

    "...It might help to conceive of romantic failures as love's way of teaching us the kinds of lessons we might never otherwise learn. When it comes to love, our so-called failures are often merely new opportunities for growth, new opportunities for singularizing our character.

    Those who understand this are more likely to welcome love's summons because they know that the happily-ever-after is only one aspect of love - that to love is, among other things, to accept the possibility of disappointment."
    -Mari Ruti, Ph.D.

    (https://www.psychologytoday.com/blog/the-juicy-bits/201107/why-fall-in-love?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C6112426699)


    But in the end, I'll be back to my normal condition when all those hormon back to their normal stage.

    Because this is normally happen when we fall in love: "Increased levels of dopamine and norepinephrine, and decreased levels of serotonin (which has a calming affect), all of which return to normal levels between 6 and 18 months into a relationship."
    (Fisher, 2000; Marazzitti, Akiskal, Rossi, & Cassano, 1999).

    (https://www.psychologytoday.com/blog/intense-emotions-and-strong-feelings/201202/blissful-love-can-make-you-sick-or-crazy?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C3334884734)


    Tentang foto berhelm, itu sebenarnya ada filosofinya. Saat itu baru selesai nonton film V for Vendetta (lagi). Ada banyak quote yang aku suka, salah satunya:
    "We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world."

    Terakhir, olahraga memanah sambil duduk itu namanya jemparingan. Kata mentornya, jemparingan berguna untuk melatih rasa. Melatih fokus dan ketenangan, sambil melestarikan budaya? Why not. Sekali-kali cobain deh. :)

    BalasHapus
  5. Yaelah nek, pake jelasin panjang lebar gitu segala. hahaha, biar lo keliatan pinter getu ya? gak ngaruh nek, mo keliatan pinter kayak apa, tetep aja lo jelek. Udah kontet, muka kayak nenek2. lo telanjang aja, cowok bukannya napsu tapi malah pada muntah.

    lu jelasin cinta segala macam, kayak kita gak tahu aja nek. kita juga ngerti kayak apa orang lagi jatuh cinta. bedanye, kita ngaca dan tau malu, sedang lu gak ngaca dan gak tahu malu. lu kegatelan gitu ya nek? sampe segitunya nguber cowo? coba aja ditawarin dipasar. #gakjaminlakusih

    eh iya, pake helm karena inspirasi v for vendetta? lagi-lagi alasannya simpel sih, kita tau kok. karena lu malu muka jelek. kita paham nek, tenang aja. kalo lu cantik gak bakal segitunya nutupin muka. lo kan kegatelan, pingin punya cowo. kalu lu gak jelek, pasti lo liatin muka lu, biar ada yang ketarik. tapi sayang ya nek, lu jelek banget. segitunya, sampe lu sendiri malu nunjukin muka lu.

    twitter lu udah aktif lagi ya nek. naaaaaah, daripada koment2 kita disini lo ilangin karena lo malu, gimana kalo kita2 komen buat lu di twitter aja? pasti asyik nek, orang2 bakal pada tau semua. oke nenek kontet?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow... I have a hater. XD

      Sebahagiamu lah mbak. :D

      Tapi kalo nanti kebanyakan argumentum ad hominem, gak bakalan aku ladeni yaa. Buang waktu secara percuma.

      Hapus
  6. hahaha, keliatan mukanya. mau muntah gw. muka kayak gitu ditawar-tawarin sampai segitunya. ya ampuuuunn. ngakak!

    BalasHapus
  7. "jadi, peran saya di sini sebagai apa? sebagai moderator tentunya."

    Hahahah..... moderator ndasmu! rupanya emang bener, muka kek asu, kekakuan sama-sama asu.

    BalasHapus
  8. You have some haters at the comment section, indeed. Kalian cewek kalau lagi musuhan ngeri ya? Kata-katanya nusuk banget sampai kelihatan ga berpendidikan gitu.


    *grabs popcorn*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Chotto matte Falz, apakah mereka benar-benar perempuan?

      Aku saja masih belum bisa mengambil kesimpulan. Jika perempuan, perempuan jenis apa yg bisa mengeluarkan kata2 sekasar itu?

      Sekeras apakah hati mereka? Jika mereka perempuan, kenapa tidak bisa berempati?

      Masih banyak tanda tanya yang perlu dijawab. Banyak hipotesa yg harus dibuktikan.

      Hapus
    2. Wait, they're not?
      Fine. Haha...

      Jika perempuan, mereka adalah perempuan yang cemburu dan tersakiti. Jika bukan perempuan pun, jelas sekali mereka sedang marah. Marah ada sebabnya bukan?

      Mereka tidak bisa berempati karena dalam kondisi 'tidak sehat'. Dalam kondisi benci mungkin. Permintaan maaf tidak akan cukup untuk mengundang empati. Jujur, dalam kondisi jadi korban, tidak mudah untuk berempati dengan pelaku. Apalagi soal konflik romansa. Kecuali, kalau kita berbicara pendapat Belle tentang Beast, atau berbicara Stockholm Syndrome.

      Tapi saya masih berpegang pada prinsip, everything is fair in love and war. Jadi, menang ya menang. Apapun caranya. History is written by the victors.

      *lalu topik komentar saya belok sampai completely unrelated with the post*

      Tidak semua pertanyaan perlu dijawab. Tidak semua hipotesa perlu dibuktikan. Biarkan saja kalau ada yang tidak sepakat.

      Hapus
    3. Entahlah. Ada banyak jenis manusia: perempuan asli, laki-laki asli, perempuan tapi seperti laki-laki, dan laki laki seperti perempuan. Yang manakah mereka? Aku tidak tahu.

      Sebuah nama yg identik dg perempuan bisa saja digunakan oleh laki-laki, dg tujuan untuk membiaskan gender aslinya. Pun sebaliknya.

      Analisa mu oke juga. Tapi, jika mereka perempuan, seharusnya mereka tidak sedang cemburu. Karena posisiku bukan sedang berada diposisi 'winner'.

      Jika bukan perempuan, lantas kenapa mereka harus semarah itu? Apakah mereka adalah lelaki penyuka sesama jenis? :D

      Masih terlalu banyak kemungkinan di sini.

      'Dalam kondisi jadi korban', oh... wakatta. Jadi ada kemungkinan, mereka berempati pada korban, tapi bukan dg cara yang benar? Bahasa menunjukkan bangsa, kata sebuah ungkapan. Mungkin, akan juga sama seperti, pemilihan bahasa menunjukkan kognisi pengguna bahasa itu sendiri. Pernah dengar ungkapan bahwa: kita menjadi magnet penarik, bagi orang yg sama seperti diri kita?

      Logika nya:
      1. Anonymous di atas sedang berempati
      2. berempati artinya peduli dan paham, karena tertarik dg 'korban'.

      Jadi, anonymous di atas peduli dan paham, karena tertarik dg 'korban'.

      CMIIW.

      "everything is fair in love and war", itu prinsipmu kenapa bisa begitu?

      Bukankah akan lebih baik jika menggunakan prinsip para Ksatria? Pernah nonton The Last Knight? Di awal mungkin mereka terlihat seperti pesakitan, tapi akhirnya mereka bisa menang dengan masih tetap menjunjung kode etik. Walaupun strategi yg dipakai memang memakan waktu relatif lama, sih.

      Hapus
    4. Everything is fair in love and war. Kenapa bisa begitu? Karena history is written by the victors. Tidak peduli itu etis atau tidak, kalau kamu menang kamulah yang mengarang ceritanya.

      Itu prinsip dalam artian saya tidak akan marah kalau dicurangi, tapi belum tentu saya curang.

      Hidup ini memang tidak adil, jadi biasakanlah. -Patrick Star

      Hapus

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^