Sabtu, 26 Mei 2012

Eksak, Kisah Seorang Pengelana Lintas Waktu [Part I]

Kisah ini hanyalah FIKTIF belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh dan karakter, memang hal tersebut disamakan secara sengaja. Hehe. Oia, "Cerita ini diikutsertain dalam 'Giveaway Buku Bekas Gue' karna 'eksak' lagi ulang tahun."

Fiuuh, GAnya sudah dari zaman baheula, tapi postingnya baru sekarang. Biarin aja, lagian batas DL nya kan masih 1 Juni 2012. :P
Selamat membaca... ^_^
*******


April 2030

Di sebuah ladang jagung, di daerah Kendal. Sesosok pria renta duduk di bangku teras, tengah asyik menikmati pemandangan sore hari. Di sampingnya terdapat sebuah meja, yang di atasnya sudah tersuguh secangkir teh bersama setoples rengginan.

Dari roman mukanya yang sudah dipenuhi keriput, dan seluruh rambutnya yang memutih, dapat dilihat bahwa setidaknya pria tersebut berumur tujuh puluh tahunan. Pria itu terlihat asyik memandangi matahari senja, yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya, ketika lamunannya tiba-tiba dibuyarkan oleh suara seseorang.

“Kek, obatnya sudah diminum belum?” tanya seorang gadis muda berkacamata yang tiba-tiba berdiri di samping kursinya.
“Sudah cu, ini botolnya,” jawab pria tua itu sambil mengacungkan botol obat yang telah kosong, kepada gadis berkacamata.
“Aduuh kakek, kenapa masih nekat makan rengginan sih kek? Gigi kakek kan hampir ompong semua, nanti ujung-ujungnya kakek malah sakit gigi lagi. Kalau mau camilan, di dapur ada setoples biskuit, kakek mau? Aku ambilin ya...” tanya si gadis berkacamata.

“Enggak ah cu, kakek udah kenyang. Lagian tadi kakek makannya juga enggak sambil ngunyah. Dicelup ke dalam teh dulu cu. Biar empuukk gitu lhoohh.” Sahut si kakek sambil nyengir kuda.
“Ya sudah deh kek. Ini sudah selesai kan? Aku bawa ke dalam ya.” Kata gadis berkacamata sambil merapikan gelas teh yang telah kosong bersama setoples rengginan ke atas baki. Lalu gadis itu berjalan masuk kembali ke dalam rumah.

Sang kakek pun kembali termenung. Terlelap jauh ke dalam lamunan sambil memandang matahari yang hanya menyisakan semburat warna merah jingga di batas cakrawala.
*******

Hari sudah mulai gelap, ketika adzan berkumandang. Namun sang pria tua tak juga melangkahkan kakinya, menuju masjid yang berjarak tiga ratus meter dari rumah. Dia tetap duduk di atas kursi rotan kesayangannya. Masih asyik memandangi kebun jagung yang terletak beberapa puluh meter di depan sana.

Namun tiba-tiba, dia dikejutkan oleh seberkas cahaya aneh jauh di atas langit. Matanya mengawasi cahaya tersebut. Dia terbelalak ketika memandangi lebih seksama, objek yang tengah melintas di atas ladang jagung miliknya. Bentuknya aneh. Seperti pesawat terbang, namun bulat agak pipih. Berkilauan warnanya, seperti perak yang tertimpa cahaya bulan.

Ketika benda aneh tersebut semakin bergerak menuju ke bawah, pria tua tadi dikagetan oleh sebuah suara samar. Suara mendecis yang sepertinya berasal dari benda terbang aneh tersebut.

“Cuuu, kemari cuu. Coba lihat apa itu.” Teriaknya.
Namun sang cucu yang tengah asik melaksanakan kewajiban lima waktunya, seperti tidak mendengar suara panggilan dari sang kakek.

Karena yang dipanggil tidak kunjung mendekat, pria tua tadi langsung berdiri dari kursi rotannya. Dia beranjak mendekat ke ladang jagung. Semakin lama dia semakin bisa melihat dengan jelas, benda terbang yang sekarang sudah berhasil mendarat di atas ladang jangungnya.

Pria tua itu berdiri beberapa meter dari tempat benda terbang aneh tadi mendarat. Dia bersembunyi di balik pohon jagung, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya menyapu objek luar biasa yang teronggok di depannya. Apaan nih? Pesawat? Tapi kog aneh kayak gini yaa?? Pikirnya.

Unidentified Flying Object
Kira-kira, seperti inilah objek yang dilihat Eksak (sumber)

Bwwiiinggg, tiba-tiba terdengar suara mendesing. Pria tua kaget dan melihat ke depan. Seberkas cahaya terpancar ke luar dari dalam benda aneh tersebut, ketika semacam lubang berbentuk seperti pintu tiba-tiba terbuka. Sesosok makhluk berkulit hijau, berkepala besar dan bermata besar berdiri di sana. Telinganya seperti telinga kucing.

Makhluk tadi melayangkan pandangannya ke semua arah. Melihat ke areal kebun jagung tempatnya mendarat. Senyum samar terlihat di wajah nya yang hijau itu, ketika pandangannya tertuju ke sebuah titik. Tempat dimana pria tua bersembunyi. Dia berjalan perlahan mendekati tempat itu. Sang pria tua ketakutan setengah mati. Namun dia tidak bisa menggerakkan badannya. Kaku. Ketika makhluk hijau semakin mendekat, pria tua segera kehilangan kesadarannya.

“Kakek kemana sih? Sudah malam gini kog malah ngilang? Kalau pergi ke mesjid, harusnya jam segini sudah pulang dong!” gerutu gadis berkacamata sambil melihat ke arah jam dinding di depannya. Jam sembilan kurang sepuluh menit.

“Apa kakek mampir ke rumahnya pak Syaiful ya? Tapi kenapa sampai malam begini? Mana umi sama abah lagi enggak ada di rumah nih.”

Gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Menghempaskan dirinya di sofa paling ujung, kemudian meraih telepon selularnya yang tergeletak di atas meja. “Pak Syaiful,” ucapnya sambil mengarahkan teleponnya ke depan mulut, dan memencet salah satu tombol yang ada di telepon.

Tuut...tuut...
“Hallo, ada apa nak Enha?”
“Begini pak, kakek saya sampai sekarang belum pulang ke rumah. Apa beliau ada di rumah pak Syaiful? Soalnya, setelah dari mesjid biasanya kakek langsung pulang...”
“Pak Eksak tidak ada di sini En. Tadi bapak juga tidak melihat Pak Eksak pergi ke masjid.” Balas pak Syaiful.
“Oh,.. terimakasih ya pak. Maaf sebelumnya karena sudah mengganggu.”
“Yah, ndak apa-apa.”
Tuut... Enha pun menutup sambungan teleponnya.

Wah kemana perginya nih si kakek? Pikirnya.
 
*******

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Enha mendengar suara pintu diketuk. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk, karena tertidur di sofa sambil menunggui kakeknya.

“Cuuu, buka pintunya cu. Ini kakek cuu..” kata orang yang tengah mengetuk pintu.
“Iyaa sebentar,” balas Enha sembari berjalan menuju pintu.
“Kakek kemana saja tadi? Kenapa pergi sampai malam begini? Nanti kalau umi sama abah pulang awas yaa, bakal aku laporin.” Sungutnya.
“Ceritanya panjang cu. Besok saja ya penjelasannya. Hoooaamm, kakek sudah ngantuk. Mau tidur dulu.”
Dan Eksak pun berjalan menuju kamarnya.
“wah, sepertinya ada yang aneh nih dengan kakek. Tapi apa ya?” pikir Enha.

Di dalam kamar, Eksak memandangi dirinya di depan cermin. Dia meraba-raba kepalanya sendiri. Meneliti senti demi senti bentuk lekuk kepalanya yang sudah penuh dengan uban itu. Sepertinya ada yang berubah nih, pikirnya.

Diapun segera mengambil secarik kertas dan pulpen yang ada di dalam laci mejanya. Menggambar sebuah bentuk mesin yang sangat aneh dan rumit. Ketika semua komponen mesin telah selesai digambarnya, diapun menoleh ke arah jam digital berbentuk penguin berwarna pink, yang berada di sampingnya. Kaget, ternyata sudah jam empat pagi.

Setelah menunggu adzan subuh, dan menunaikan kewajibannya, Eksak pun beranjak menaiki tempat tidur. Dia terlelap ke alam mimpi. Semakin jauh menuntunnya kepada peristiwa yang telah dialaminya petang tadi.

*******

Tok..tok..tok..
“Kek bangun, sudah siang kek,” teriak Enha dari balik pintu.
Eksak terkesiap, antara setengah tertidur dan setengah terbangun, dia melihat ke arah jam digital di atas mejanya.

“Ya Tuhaaan, sudah jam setengah satu. Ampun deh. Kenapa tidurku lelap sekali ya?” gerutunya.
“Kek, makan siang sudah siap,” teriak Enha lagi.
“Iya..iya, kakek sudah bangun nih. Sebentar, mau cuci muka dulu.”

Beberapa menit kemudian.

“Eh buset dah. Makanannya banyak benget cu?” tanya Eksak sambil duduk di atas kursi.
“Iya nih kek. Tadi Mbak Maya, anaknya Pak Syaiful dateng kemari. Ngasihin makanan. Katanya nanti malem di rumahnya ada pengajian. Berhubung umi sama abah enggak ada di rumah, kakek yang disuruh dateng ke sana.” Jawab Enha yang sudah dari tadi menunggu kakeknya untuk ikut makan.

“Wah, tadi neng Maya dateng ke sini? Kenapa kamu enggak bangunin kakek?!” celetuk Eksak. Tangannya sibuk mengaduk-aduk kuah opor yang ada di depannya.
“Ya ampun, kumat deh. Denger nama mbak Maya disebut, kakek sepertinya langsung semangat sekali. Dasar kakek. Inget kek, umur kakek tuh udah kepala tujuh! Masih demen aja sama yang bening-bening. Lagian, salah kakek sendiri. Sudah dibangunin sepuluh kali, eh tidurnya masih pules aja.” cerocos Enha. Kata-katanya terdengar sedikit tidak jelas, karena mulutnya memang sedang mengunyah makanan.

“Apasih?! Enggak suka ya punya kakek bahagia?”
“Terserah deh... Jadi gimana kek? Nanti malam bisa datang ke pengajiannya Pak Syaiful?”
“Demi ketemu neng Maya, apasih yang enggak?” timpal Eksak
“Dasar kakek genit. Enggak ngaca sama umurnya sendiri,” pikir Enha.
“Eh tunggu dulu cu, sebelumnya kakek punya permintaan.”
“Apa itu kek?”

“Bantuin kakek merakit mesin.”
“Mesin? Mesin apa kek? Kakek ngelindur lagi ya?”
“Mesin waktu cu! Kemaren malem, kakek ketemu sama jin. Jin tadi membuat otak kakek lebih cerdas dari biasanya,” jelas Eksak.
“Heeh? Jin? Emangnya kakek ketemu dimana? Kog tahu bahwa yang kakek temuin itu jin? Terus... terus, gimana caranya bikin mesin waktunya? Bukankah akan memakan waktu yang sangat lama? Katanya, mesin waktu tuh njelimet banget kek...”
“Pokoknya cucu harus janji dulu, kalau cucu bakal percaya sama apa yang akan kakek ceritain. Kalau enggak, kakek enggak mau cerita.”
“Iya deh iya. Janji.”

*******

“Oke, sebelum kakek cerita, kakek mau tanya dulu.”
“Apa kek?”
“Menurutmu, teori evolusi tuh bener enggak sih?”
“Yang manusia berasal dari monyet? Enggak percaya.”
 
“Bhahaha, itu baru cucu kakek. Kamu tahu kan, kalau nabi Adam tuh tinggi dan besar mirip raksasa. Bahkan katanya, tinggi beliau mencapai 60 hasta! Hampir 30 meter cu! Nah, kalau manusia pertama saja tingginya segitu, masak nenek moyangnya adalah manusia homo-homoan yang tingginya cuma beberapa meter! Bhahaha...”
 
“Wow, nabi Adam tinggi sekali ya Kek. Terus kalau begitu, menurut Kakek, ada kemungkinan enggak, jika manusia tuh pernah hidup bersama dinosaurus?”
 
“Mungkin juga sih cu. Coba aja bandingkan, nabi Adam yang 30 meter dengan T-rex yang tingginya cuma 6 meter. Jaauuuh banget kan bedanya?! Mungkin dinosaurus di zaman nabi Adam dulu tuh, hanya dianggap sebagai kadal biasa.”
 
“Wow. Kalau begitu, menurut kakek, apakah manusia sudah menginjakkan kaki di bumi ini sejak ratusan juta tahun yang lalu?”
 
“Mungkin saja cu. Toh katanya jumlah keseluruhan nabi tuh ada 124 ribu orang. Misalkan antara nabi yang satu sama nabi yang lain kemunculannya berjarak seribu tahun, artinya manusia setidaknya sudah hidup di bumi ini sejak 124 juta tahun yang lalu kan?! Itu baru dihitung berdasar jumlah nabi saja lho!”
 
“Heeehh, mbuh lah Kek. Aku malah jadi pusing. Ceritanya kog enggak masuk akal gini? Kakek sudah enggak waras ya? Lantas, cerita tentang Kakek semalam menghilang tuh, bagaimana?”
 
“Hush! Kuwalat nanti, ngatain kekek sendiri enggak waras! Asal tahu saja, jenius sama gila tuh cuma beda tipis. Bhahaha...”

Kemudian, si kakek pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya semalam kepada cucunya. Mulai dari ketika melihat benda terbang asing, hingga saat dia pulang kembali ke rumah dengan selamat.


To be Continued...

23 komentar:

  1. Part I selesai di posting.
    Akhirnya, bisa mengerjakan skripshit dg tenang. huuft.

    Special thanks to: Eno Cute. ^_^
    "Terimakasih atas diskusinya. Sepertinya, hanya dirimu yg pikirannya aneh kayak pikiranku." hehehehe... :P

    BalasHapus
  2. hahahahay, kenapa mirip film jhon carter ini????
    hmmmm, apa salah baca ya, :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagian mananya yg mirip bang???
      hiks..hiks... padahal aku kan belom nonton film jhon carter.
      :(

      #tiddaaakkk, cerita ini bukan plagiat. Sueeerrr...

      Hapus
    2. hehehehehe, sabar ya cu, yg mirip di film cuma imaginasi nya yg baca doang kok, selebihnya mirip film "Enha menunggu kakek", hehehehhey :P

      Hapus
    3. minta filmnya donk.
      pengen nonton john carter gondrong.

      eh, enha menunggu kakek?
      wekekeke...

      Hapus
  3. Eh, ini.... Ini..... kenapa harus tahun 2030? LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. angka cantik bro, hehehehe...
      :P

      Hapus
  4. Part 2 nya kapan di post??? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walah, berasa tersanjung, ada yg nungguin.
      :P

      Hapus
  5. Mesakke men eksak dadi tuwo neng kene, bhahaha...
    Nganggo part 1 part 2 ki lho... bhihihi...
    Mbuh rep komen opo, bhehehe...
    Tak tunggu part selanjutnya, bhohoho...
    Bye, bhuhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. berasa kurang afdhol kalo belum nge-bully, hehe...
      kalo enggak dijadiin 2 part, kasian yg mbaca cin.
      ;)

      Hapus
  6. Walah... jadi kagak sabar nih nunggu part 2, kire2 si kakek mau bikin ape ye.. kasiih tau dong mbaaa....hihhiii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, cerita ttg mbah Eksak-nya bikin penasaran ya sist? wkkwkkwkk...
      :P

      Hapus
  7. kyaaaa baru tau rengginang bisa dimkan di celupin #eh... ternyata eksak di culik jin yee... wah udah bau tanah masih genit aja dah..

    lanjut ke part berikut =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dong, biar empuuk gitu, haha...
      emang dasar tuh kakek eksak, udah bau tanah masih ada genit ya...
      wedew.

      =,,=

      Hapus
  8. ohh ini part I, aku malah bacanya dari part II :D hihihihi... ehem.. ternyata si eksak itu kakeknya enha ya. terus aku tetangga ^^ anaknya pak syaiful... wah wah :) asli deh.. idenya luar biasa na. bisa aja tuh disambung-sambungin ceritanya =P

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Maya kog bacanya kebalik sih. Jadi spt alur mundur donk, ceritanya... (=..=)
      iyanih, kakek Eksak itu kakeknya si enha, tapi genitnya minta ampuun. Ati2 sama beliau ya mbak, hehehe... :P

      Ceritanya sengaja disambung2in mbak, whehehehehe...

      Hapus
  9. Yaelah! Elu bener2 nganggep gue kakek? Ckckck, salam buat neng maya, ea...

    Gue tunggu part ke duanya! Bhahaha, perasaan udah ada... %-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya donk, harus konsisten. Dicerita ini, Eksak adalah kakeknya enha. Ngomong-ngomong, nama nenek gue siapa kek?

      Appaaa?? namanya Bambang???

      Hapus
  10. jiakakakaka, jadi bapak2 -_-a
    tepatnya sih kakek2 :(

    Pak syaiful pak syaiful...

    Syaiful itu cocoknya jadi pacarnya si cucu... Hahay

    BalasHapus
    Balasan
    1. huehehe, Pak Syaiful datang kemari.
      Bukan kakek2 pak, tapi bapak2.

      Owh, jadi Pak Syaiful mau jadi pacar cucunya kakek Eksak? boleh, nanti saya kenalkan Pak Syaiful dg Parto (cucu pertamanya Kakek Eksak).
      wkkwkkwkk.

      Hapus
    2. assalmu'alaikum...kunjungan perdana....kirim salam buat kakek nya yaaa????..salam kenal .....bahagia itu indah...

      Hapus
    3. salamnya salah sob, kurang huruf A. Dibaca jd enggak enak, gak gue bales deh ye,, hehe.

      wah, mohon maaf, salam tidak bisa disampaikan. Karena si kakek sudah pergi ke jaman baheula.

      ya, saya setuju: bahagia itu indah.

      Hapus

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^