Minggu, 23 Juni 2013

Media, Konglomerasi Media, dan sebangsanya.... (Part III)


“Gimana Say, kelanjutan dari part sebelumnya? Udah punya contoh konglomerasi media di Indonesia? Lama amat jeda postingannya.”

“Heh?! Kau masih menungguku untuk melanjutkan Cint? Kawan-kawan sekalian juga masih baca? Terharu deh rasanya. Maaf ya, kemaren moodku hilang. Aku lagi jengah tingkat dewa. T__T”

Krik... krik... krikkk

“Lebay deh. Yang nungguin lanjutannya kan cuma eike seorang En! Cepetan lanjutkan!” sungut Ha.

“Hiks, lebay sekali-kali boleh donk, hiks.. hiks. Betewe, aku ambilkan Pdf-nya Professor Merlyna Lim dulu ya.”

“Oke.”


“Ehm, contoh konglomerasi media di Indonesia nih, ehm. Dari sepuluh stasiun televisi swasta nasional yang ada di Indonesia, hanya dimiliki oleh lima media grup: RCTI, Global TV sama MNC TV di bawah kekuasaan Pak Hari Tanoe; SCTV dan Indosiar di bawah kepemimpinan Pak Eddy Kusnadi Sariaatmadja; Antv sama TVOne di bawah Anindya Bakrie –anaknya Pak Abu Rizal Bakrie; MetroTV punyanya Pak Surya Paloh; terakhir Trans TV ama Trans 7 di bawah kepemimpinan Pak Chairul Tanjung. Itu baru TV-nya, belum bentuk media lainnya. Kalo mau data lebih lengkap, baca aja laporannya Professor Merlyna di sini.”

“Memangnya ada yang salah ya, kalo media massa dimiliki segelintir orang?”

“Entahlah, itu tergantung pada apa yang kau percaya. Haha. Tapi satu hal yang pasti, kepemilikan media memungkinkan pemilik untuk mempengaruhi isi editorial. Meskipun tingkat campur tangan pemilik terhadap isi editorial tersebut, bervariasi antarpemilik sih.[1] Dengan menguasai semua alat yang berpotensi untuk menjangkau khalayak, para konglomerat ini mempunyai kekuatan untuk menciptakan satu sudut pandang, menyeragamkan cara pikir khalayak. Bagaimana menurutmu?”

“Mirip teori Cons pee Ra see. Nyahaha.” Sahut Ha, ngasal.

Media Blitz
Media Blitz (sumber: Iluminati Card Game)
 
“Haha, dasar kau ini! Sebenarnya, media mengarahkan kita untuk memusatkan perhatian pada subjek tertentu yang diberitakan media. Ini artinya, media massa menentukan agenda kita.[2] Agenda media juga bisa sengaja dimunculkan. Semakin gencar media massa memberitakan, semakin hangat dan ramai topik tersebut dibicarakan masyarakat[3].”

“Yeah, seperti kalo ada berita anak petinggi yang kena kasus atau kabar tentang kenaikan BBM, trus tiba-tiba muncul para teroris, kasus Eyang, NII, gereja setan, dan blah blah blah. Trus kasus tadi, pemberitaannya seperti lenyap gitu?!”

“Yep, mungkin. Teman-teman di forum bilang: itu cara basi. Tentu saja cara ini terasa basi buat yang sudah paham, kalo belum paham, ya pastilah mereka benar-benar teralihkan. Eh Cint, menurutmu, mungkinkah cara-cara tadi itu termasuk propaganda atau agenda setting?”

“Agenda Setting?”

“Yep. Joseph Klapper melihat adanya kemampuan “rekayasa kesadaran” oleh media, dan ini dinyatakannya sebagai kekuatan terpenting media, yang dimanfaatkan untuk tujuan apa pun. Rekayasa kesadaran sebenarnya sudah ada sejak lama, namun media-lah yang memungkinkan hal itu dilaksanakan secara cepat dan besar-besaran.[4]

“Tapi Say, kan nggak semua info bisa kita terima mentah-mentah begitu aja. Setiap orang pasti akan curiga kan, kalo ternyata mereka digiring hanya untuk memikirkan hal-hal tertentu aja?”

“Entahlah, kalau semua media menyuarakan satu hal yang sama, apakah orang-orang akan berpikir kalau mereka sedang digiring pada satu pemikiran tertentu? Menurutku sih, tren konglomerasi media ini akan membuat semakin mudahnya untuk menguasai cara pikir khalayak. Masih ingat tentang iklan manfaat pengurangan subsidi BBM kemaren?”

“Kenapa? Ada apa dengan iklan itu?”

“Awalnya sih, iklan tadi terlihat menjanjikan. Tapi setelah baca diskusi di forum, aku malah jadi galau. Hiks...hiks... Yah, semua memang punya dua sisi sih, kalo ada kelebihan pasti akan ada kekurangan. Dan meski banyak yang protes, demo kayak apapun, toh harga BBM naik juga. Percuma melakukan anarkisme, toh itu hanya menimbulkan kerusakan dan tak memberikan solusi.”

“Apasih? Aku nggak paham apa yang kamu omongin Say.”

“Hiks, baca aja sendiri diskusinya di forum. Karena aku bener-bener lagi nggak mood. Aku bukan pakar ekonomi. Jadi entahlah, aku tidak tahu apakah yang mereka tuduhkan itu benar atau salah. Yang harus terjadi, maka terjadilah. Yang aku tahu, enggak semua orang yang terpapar media, punya media literasi yang memadai. Menurut mas Eka Nada, ada kecenderungan dari individu-individu yang berinteraksi dengan media justru tidak mampu mengolah, memilah dan memanfaatkan informasi yang mereka peroleh.[5]

“He’em, kalo yang itu aku setuju. Betewe, forum mana yang kamu maksud? Dan jika mas Eka Nada bilang begitu, bukankah yang rentan tersetir pikirannya, hanya yang suka nonton berita serius? Aku yang cuma nyalain TV buat nonton film, aman donk ya?! ”

“Belum tentu kau akan aman dari pengendalian sudut pandang Cint. Menurut Charlene Brown,[6] mereka yang berusaha santai dengan mencari hiburan melalui media, seringkali tidak sadar bahwa dalam acara-acara hiburan tersebut bisa terkandung pesan atau pelajaran yang membahayakan. Bahkan, ada pengamat yang menyatakan bahwa film dapat menghipnotis penonton, sehingga mereka selalu pasif dan menerima saja apa yang disajikan film.[7]

“Hmmm, iya juga sih ya. Kemaren pas aku nonton film Iron Man di TV, jadi agak gimanaaa gitu. Aku sempet mikir, kenapa mereka memotret musuhnya seperti itu? Rata-rata orang menonton TV kan buat nyari hiburan. Kalo tiap nonton TV musti mikir, pasti TV nggak akan selaku sekarang donk ya.”

“Hehe. Makanya, aku merasa aneh waktu kemaren dulu nemu TS di grup Facebook, yang nyaranin kalo sebaiknya kita belajar lewat TV aja. Mungkin dia belum tahu efek negatif kebanyakan nonton TV.”

“Hihihi, bukan hanya TV aja Say yang punya efek negatif. Segala sesuatu yang porsinya berlebihan, pasti nggak bagus juga donk. Kan semua punya dua sisi: baik dan buruk, ya nggak sih? Betewe, kamu belum jawab pertanyaanku tentang forum. Forum mana yang kamu maksud?”

“Forum di Facebook. Namanya apa ya? Inteligen kalo enggak salah. Sekitar dua minggu yang lalu, aku nyasar kesana. Membaca diskusi antar member di forum itu, sungguh terasa seperti perutku sedang ditonjok. Setiap hal pasti punya banyak sisi, forum tadi pun begitu. Di satu sisi, ada member yang ketika kau membaca komentarnya membuatmu serasa ingin marah, di sisi lain dia bisa memberimu informasi. Hihi. Kita sudahi aja yuk, postingan enggak jelas ini. Kasihan kalau beneran ada yang nyimak atau baca. Have a nice day ya Cint. Aku mau ngumpulin mood dulu.”

“Okedeh, semoga harimu menyenangkan. Bye.”

-End Of Note-



[1] Michael Bland, Alison Theaker, David Wragg, Hubungan Media yang Efektif, terjemahan Syahrul .(Jakarta: Erlangga, 2004),
[2] Nurudin. Komunikasi Propaganda. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002.Cetakan ke-2)
[3] Ibid.,
[4] William L. Rivers, et.al ., Media Massa & Masyarakat Modern, terjemahan Haris Munandar-Dudy Priatna. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008),.
[5] Eka Nada Shofa Alkhajar, dkk. Anatomi Media Massa. (Solo: KATTA, 2009).
[6] William L. Rivers, Op.Cit.,
[7] Ibid.,




29 komentar:

  1. bagus nih tulisan yang sangat detail. salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoooshh, salam kenal balik. haha
      :v

      Hapus
  2. Iya semoga menyenangkan ya, saya ndak kecebur-cebur amat dengan media. Apalagi nelan bulat bulat.
    #ketauan banget baca sepotong sepotong


    Apakabar En?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nelan bulat2? Haha, aku jadi dapet analogi baru nih Zay: berburu informasi di media, ibarat berburu makanan. Ada kalanya, makanan itu harus kita pilah-pilih dulu, siapa tahu itu beracun ketika kita makan. Ada juga yang harus dimasak dulu, supaya nggak menimbulkan efek negatif, dan ada juga yang bisa langsung dimakan 'nyam-nyam-nyam'. Media literasinya = pengetahuan dasar ttg bahan2 makanan dan cara yang benar untuk memakannya. Huehehe >>analogi super absurd. :v
      #tak apalah dibaca sepotong, yg penting intinya dapet kan? wkwk.

      Kabar alhamdulillah dan insya Allah supeerrr. Aamiin. haha.

      Hapus
  3. media ibarat kapak bermata dua.., satu sisi bs tuk kebaikan tp disisi lain bs tuk kejahatan,

    media skrg rata2 dikuasai olh org2 kafirun klo pun ada muslim paling2 muslim awwam yg trkena syubat kafirun...! *miris

    BalasHapus
    Balasan
    1. *ikutan miris*

      ~padahal dari dulu pengen kerja di media nih saya. Huhuhu. T__T

      Hapus
  4. Dizaman ini masing-masing menggunakan gelontoran uang untuk me-media-kan demi kepentingannya atau kelompok. Musti cari ke kepelosok penjuru untuk menemukan media yang netral, tidak memihak. Makanya sekarang saya jadi agak 'males' lihat berita di TV, pun begitu di media cetak. Karena masing2 editorial pasti menyisipkan opininya

    BalasHapus
    Balasan
    1. das kapital?
      kekuatan media sbg pilar pengawas kebijakan, mungkinkah telah berganti mjd sumber penghasil uang dan kekuasaan?
      @___@

      Hapus
    2. seperti Metro TV


      Metro TV Keras Kepala Tidak Mendengarkan Mendiknas
      http://rohis-facebook.blogspot.com/2012/09/metro-tv-keras-kepala-tidak.html

      Metro TV Menjauhkan Remaja Muslim Dari Islam
      http://rohis-facebook.blogspot.com/2012/09/metro-tv-menjauhkan-remaja-muslim-dari.html

      Hapus
  5. emang moodnya ke mana aja selama ini kok mau dikumpulin ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin moodnya dilarikan oleh sang waktu mbak. -__-

      Hapus
  6. Analisis yang keren. Khas enha banget :)
    Btw, enha, bersediakah memberi endorsement untuk buku KeCE 2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih tepatnya, abal-abal ala enha. :3
      kak Maya meluncurkan KeCE 2? wuahhh, yang pertama saja aku belum beli lho.

      :') tersanjung kak Maya memintaku... huhuhu. :')
      Ini endorsement ala review di blogkah yg kakak minta?
      Kalo begitu, aku harus baca dulu. :v
      *minta satu copy donk* hahaha. :v
      ~bercanda dink, hehehe :v

      Yoooshhh, nanti kalo udah beli dan udah baca, saya reviewkan dimari. :)

      Hapus
    2. iya, enha boleh membacanya terlebih dahulu :)
      minta emailnya ya!

      Hapus
    3. asik, suatu kehormatan bagi saya kakak. :)

      coba kak Maya cek imel yg kakak sertakan di blog Kemilau Cahaya Emas, saya tadi sudah nyoba ngirim imel kesana. Itu alamat imel saya. Hihihi.
      :)

      Hapus
  7. En, tadi saya nulis komentar panjang terus terhapus dan nggak masuk. Yang jelas tulisan panjangmu ini membuat saya nggak mood. Tapi, sudahlah. Toh, saya baca semuanya.

    Rangkaian tulisan ini membuat saya ingin menguasai media. Hahaha...

    Betewe, Illuminati Card Game... kenapa semua tulisan ini menggunakan gambar dari sana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulis komennya di notepad ajah dulu bro, baru kopas ke kolom komen. Aku kalo lagi mau komen panjang -kemanapun: blog maupun facebook- pasti ku ketik di notepad dulu. Jaga-jaga kalo sinyal putus. hihihi. :3

      Tulisan ini, emang sempet bikin moodku drop. Gak tahu kenapa, dalam rentang tulisan ini kubuat, tiap aku lihat berita maupun buka grup di FB, aku jadi eneg. Mood ilang#curcol

      Pengen menguasai media? Semangat ya! Minimal yang di Indo dulu nih, silakan tambahkan ke list daftar keinginan. Good Luck. hehe.

      Kenapa aku pake gambar dari iluminati card game? Jawabannya sungguh simpel: karena aku lagi males bikin gambar ilustrasi, maupun nyari gambar di google. Berhubung di lepi ada koleksi gambar ICG yg kira2 cucok, ya kupakai aja deh. fufufufu.

      Hapus
    2. kalo aslinya (yang berbentuk kartu), nggak punya. Saya cuma punya koleksi gambarnya.
      :)

      Hapus
    3. Ya, itu. Menakjubkan mengetahui bahwa ada kawan blogku yang ngefans berat sama Illuminati.

      Hapus
    4. Menakjubkan? Muehehehe, banyak lho, yg demen sama cerita macam *imunisasi remason oleh wahyudi*. :p

      Apakah kau tak menyukai kisah-kisah ttg mereka?

      Hapus
    5. Tepatnya menghindar untuk tahu. Karena saya akan sangat tertarik kalau saya tahu.

      Hapus
  8. tergantung kita pintar2 memanfaatkan media aja..
    salam kenal enha..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tergantung kitanya sebagai penikmat media. Yang mengkhawatirkan, mereka-mereka yang suka nelan mentah-mentah apa yang diberikan oleh media....

      salam kenal kembali mbak Anis. :)

      Hapus
  9. aku sekarang mulai nggak percaya sama media. lebay, dan kelihatan banget "kepentingan" pemiliknya. kalau ada berita negatif tentang pemerintah, di blow up seheboh-hebohnya. kalau ada berita tentang pemiliknya, diredam sedemikian rupa. kalau ada berita tentang elektabilitas capres, jelas pemiliknya yang elektabilitasnya paling tinggi. pening saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. daripada pening mikirin negara, nonton film aja yuk mbak. hehe
      #ajakan sesat
      ~,~

      Hapus
  10. konglomerasi dan monopoli sebenarnya sama saja maknanya..cuma namaynya yang berbeda :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang Har, maknanya sama.

      Btw, jadinya para konglomerat lagi main monopoli. XD

      Hapus

Pertanyaan, kritik, saran, komentar? Silakan keluarkan uneg-unegnya. Tak perlu malu-malu... hehe... Oia, untuk sementara (sampai batas waktu yg belum tahu kapan), komentarnya aku moderasi yaaa... Have a nice day. Terimakasih sudah mampir dan membaca. ^_^